Friday, March 10, 2017

PEMBUNUH TANPA PEDANG

Sabtu Dini Hari....

Saya merenung duduk dan membiarkan kopi yang baru diseduh dingin. Saya coba pelajari dan pahami tiap hal yang terjadi. Saya coba kuasai. Mencoba hadapi dan tidak lari. Karena lari bukan kebebasan untuk seorang lelaki.

Saya pemimpin dari sahabat-sahabat saya di tempat kerja. Harusnya saya adil, harusnya saya tulus, harusnya saya bijak. Harusnya saya bisa memanusiakan manusia, saya harus bisa mendampingi mereka saat sulit karena itu tanggung jawab saya. Saya harus bisa lindungi mereka.

Malam ini dada saya sangat sesak, bahkan bicara pun tak bisa. Belum sebulan saya penggal mata pencaharian dua sahabat saya dihadapan para kolega-kolega saya.

Dulu memang saya lebih dari ini. Seorang algojo, eksekutor, dan juru tembak. Atau mungkin lebih tepatnya joki peti mati.

Tapi diposisi sekarang ini saya merasa seperti seorang rachib yang dipaksa jadi algojo pemenggal kepala manusia. Sama seperti yang dikisahkan Iwan Simatupang dalam bukunya; "Merahnya Merah".

Rachib yang mengampuni tiap penganut Katholik di bilik gereja, jadi pemenggal kepala manusia dihadapan semesta.

Baru kemarin hati saya diisi sesuatu berharga yang membuat hidup saya seperti kembali terang lewat cahaya kecil yang dibawa seorang gadis. Tapi sepertinya takdir memaksa saya jadi orang yang dingin. Pembunuh tanpa pedang dan peluru.

Yang dibenci.
Yang kesepian.
Yang sendirian.
Dan
Yang meminta ribuan maaf padamu, kawan.

Sebuah Ucapan Maaf

Tak ada yang ingin kubagi hari ini,
Karena semuanya masih seperti biasanya.
Dawai angin lembut mengalun harmoni
Lembut bercahaya seperti pelangi

Maaf...
Jika lelahmu masih kutindih dengan gelisah.
Waktu-waktu yang resah
Kelak jadi bingkisan sebuah tanya di hatimu
Ketika langit jatuh di pangkuanmu,
Di tangan yang tengadah pilu.
Di tengah malam yang abu-abu.

KUPU-KUPU MURUNG

  Hai dinda, Apa kabar di sana? Kurasa malammu baik-baik saja. Kuingat saat pertama matamu menjangkau mataku Ada luka dalam di sana, yang en...