Thursday, May 12, 2016

Debu

Butir debu perlahan hangatkanku,
debu-debu yang kini mulai jadi bulu.
Bulu beribu terjahit jadi selimut kalbu;
Kala dingin rindu ramai menderu.

Aku masih kaku di tepi senja
Bersama puing yang jadi debu (kemana-mana).
Jika dapat, ingin aku kumpulkan debu itu lalu kuhamburkan.
Biar beterbangan bertabrakan berserakan lalu berantakan.

Aku duduk di hadapan lilin bersama senja
Kuingat lagi dawai ramai
yang dulu pernah buatku terpukau
Pada sebuah lagu tempo dulu.

Namun sekejap, ketika angin meniup lilin.
Terlahir temaram dari rahim kegelapan
Yang bernama asli kesepian.
Kini sang waktu tak bisa bedakan,
Antara; debu, rindu, dan pilu. 

Wednesday, May 11, 2016

Sajak Subuh

Redup pagi basuh mataku yang penuh debu.
Kutercengkram begitu erat hingga kuterjebak dalam pekat.
Belenggu ketololanku; membatu bisu dalam tiap derai nafas.
Kucari suara lantang yang memanggilku merdu, tapi tak kutemui.

Telah kuselami luka, tapi dia tak tertangkap retina maya.
Harapku temukanmu dari ujung debu hingga pucuk salju.
Tapi aku masih saja terbang diantara jurang-jurang tanya. 
Aku dan ketidakwarasan berteman baik. Sejak retina nyata
membungkam yang maya, hingga kini kuberjaket tebal berjubal, dan bebal.

KUPU-KUPU MURUNG

  Hai dinda, Apa kabar di sana? Kurasa malammu baik-baik saja. Kuingat saat pertama matamu menjangkau mataku Ada luka dalam di sana, yang en...