Saya sedang tidak begitu mengerti dunia. Ah tidak, mungkin lebih kepada tidak mengerti kemauan diri saya. Atau lebih kepada orang yang tidak bersyukur dengan yang saya punya sekarang. Banyak hal indah yang saya punya dahulu dan saya buang jauh begitu saja. Saya biarkan retak dan mencoba menghapus jejak.
2018 adalah tahun keemasan di dalam karir saya. Saat itu hampir semuanya saya peroleh. Persahabatan, kepercayaan, rasa nyaman, pencapaian, dan banyak hal. Saat ini saya berpikir betapa saya salah langkah dalam mengambil keputusan. Semoga untuk kali ini saya tidak kembali salah langkah.
Semarang salah satu kota yang mempunyai ciri makanan dengan rasa manis, bahkan kadang saking manisnya tiap rasa yang berpindah ke indra kita akan susah terlupakan. Banyak hal yang sudah diajarkan kota ini kepada saya. Kota ini mengajarkan bertahan melawan badai serta merangkak menuju angkasa.
Karena rasa sangat percaya kepada seorang pimpinan pada akhirnya saya merasa wajib mengikuti tiap jejaknya. Selain karena hutang jasa, beliau pula yang selalu ada untuk sekedar bercerita. Namun justru langkah itu membuat saya terjun bebas ke dalam jurang dan menenggelamkan karir saya. Di saat saya menyadari saya salah langkah dan mulai berusaha survive dengan pilihan saya dan badai lain kembali hadir.
Pada akhirnya takdir menerbangkan burung kecil dari utara menuju selatan. Mindset salah dari utara membuat saya terseok-seok di selatan. Bertahan pada satu posisi tanpa perlu pikir panjang asal jumlah hasil yang diterima sebanding dengan keringat yang dikeluarkan.
Kini saya harus kembali survive dengan kondisi sekarang, saya sudah tidak bisa putar arah. Tenaga sudah rapuh dipangan usia sedang ilmu dan tanggung jawab tak kunjung naik. Saya dilempar dari satu kolam kecil ke kolam lain. Atas dasar kesetiakawanan saya berusaha sebijak mungkin menyikapi diri saya yang ternyata menjadi seorang pesakitan.
Namun kali ini saya harus berusaha bertahan, survive dan tak tergoda apa pun. Sabar dan tidak menyalahkan orang lain. Tapi sejujurnya sulit sekali menjalani sesuatu yang berlawanan dengan nurani. Saya coba berkeluh kesah namun semuanya mentok. Kemudian malam ini saya coba pikir dan ulang kembali tentang rekam jejak ingatan. Tentang menjadi diri sendiri, merasa cukup, tidak sombong, dan tanggung jawab.
Saat ini saya sedang berada di tengah samudera yang awaknya seolah saling bermusuhan. Saya sangat tidak nyaman dengan kondisi ini. Dahulu saya punya pegangan berupa rasa percaya kapten kapal. Sedang sekarang saya hanya orang asing buangan yang mestinya bersyukur di tampung di sebuah kapal yang sudi memberikan sesuap nasi di tiap harinya.
Apakah takdir saya selalu harus salah pilih? Saya rasa tidak. Karena saya berusaha menjadi bijak. Namun pada akhir-akhir ini saya merasakan bahwa konsekuensi dari "bijak" itu sendiri adalah pengorbanan perasaan. Setiap hari, setiap waktu, setiap saat kini saya hanya berusaha melewati waktu demi waktu untuk kebahagiaan orang lain.
Apakah saya mesti nekat melompat? "Ngolot...!!!" barangkali saya akan mencoba bertahan di tengah kemunafikan ini dalam pangkuan tutur bahasa yang tak terkata. Mengamati dan mencari pelabuhan yang mungkin membawaku kembali ke tanah tempatku dilahirkan.







