Monday, June 14, 2021

JARUM DALAM KEPALA




Seperti surat kaleng di laut yang entah kapan sampai pada tujuan. Terombang-ambing bersama deru angin mendesing memukul sepi. Berayun bergelayut seperti rambutmu yang hitam. Terasa kemarin sore aku duduk dikursi dan malam yang sama. Namun saat aku terjaga semuanya sudah terlalu asing kucerna dalam dada. Sakit dikepala. 

Jarum-jarum itu tiap waktu mensuk ingatan dan rekatan yang pernah membekas. Denting piano sunyi selalu berhasil memanggilmu dan memukulku mundur tak teratur. Terbang tak tenang dalam bayang-bayang tenggelam. Puluhan lagu lama yang menyala mengakar luka, berbuah realita. Sepi. Kenyataan bahwa kau tiada. 

Sudah berapa waktu ingin kutulis puisi-puisi tebal untuk sebuah rekah di senymmu. Kupu-kupu biru hinggap di halaman, kini dia sendirian. Terbang tanpa bunga diantara pelataran-pelataran yang sepi tak kunjung terobati. 

Pada sepi paling sepi: Tinggi menjulang Ranukumbolo atau tegarnya Sindoro. Tak mampu menghidupkan kembali sesuatu yang bernama namun tak berirama. Kini sudah nyaris setengah perjalanan, aku berdoa untuk segala sahaja kebahagiaan di dekatmu. 

Ada jeritan paling keras pada dinding paling sepi di hati. Seandai-andainya bertemu akan menghapus ketulusan dalam mencintaimu. Maka biar kesenduan dan perih-perih penyesalan mengajarkan keikhlasan. Sebenarnya banyak tanya yang mesti diselesaikan. Entah kenapa?

Namun bodohnya aku. Mengatasnamakan logika dan kecintaan yang tercinta tanpa mendengar nurani. Tidak..!!! Tak perlu ratapan, cukup keikhlasan. Walau ditiap jalan ada luka. Walau ditiap udara ada lara. Dan ditiap tempat ada rindu-rindu yang berat.

Aku kembali dalam dekapan hujan. Melihatmu berteduh kedinginan namun tak mampu meneduhkan atau menghangatkan. Hanya doa penghubung ketulusan dalam dekapan. Dan ucapan lirih, bahwa "Aku mencintaimu" tak akan lekang walau berpenghalang.



Seminyak, 22 Desember 2014

Tuesday, June 8, 2021

BAYANG-BAYANG



Pernah. Gelap membekap.
Murung mengurung.
Seperti hari-hari mati. Tapi sudahlah.
Kehampaan itu biasa. 
Seperti rongga dada tempat masuk sebuah udara. 
Bukankah kehidupan berawal dari kehampaan.

Manusia menghabiskan akhir masa untuk harta masa selanjutnya. 
Entah cinta yang mereka tanam ada atau lupa.
Tapi biar saja. Yang penting mencoba (kata pengemis pinggir jalan).

Hari-hari murung karena mendung. 
Selalu jadi kambing hitam. Mendung tak pernah naik pitam. 
Setulus gelap setabah temaram. 
Mencintai kesendirian yang hadir bersama kesunyiaan lebih melegakan. 
Seperti berteriak di pantai kuat-kuat. 

Entah beban masih lekat atau tidak, tapi setidaknya puas mengobati cemas.   

 

BURUNG GEREJA JINGGA

  



Beberapa waktu kini sering melempar angin menuntun teduh ke masa yang sudah lama tak kusapa. Seperti artefak-artefak Budha yang tergambar begitu indah kecil melebar. Rinai redup batuan awan turun terasing pada nyanyian angin yang bising. Bersamamu. Ada celah di awan yang pernah kita coba lawan. Menyembah harap meracau keluh dan sisa-sisa kini yang ada, hanya bualan demi bualan tanpa nama.

Serpihan pagi dan kepingan sore di sisimu kini serupa hujan, menggeliat pelan tersapu ketiadaan. Sepertimu. Sesuka hati melukis musim di hati tanpa peduli yang terjadi. Tanpa mengerti apa yang ada kini. Jika telaga itu masih sama, dimana dulu kau menenggelamkan seseorang hingga mati tak bersuara, tenggelam dalam gula-gula sekam. Maka kursi itu tak akan pernah terhuni lagi.

Jika jingga ufuk barat berubah pergi dari timur. Atau jika harapan terhalang dengan kata umur. Maka izinkan burung gereja kecil terbang rendah kehadapanmu. Menikmati bau tubuhmu. Mendengar tiap decit dari gigi mungilmu beradu saat kau tersenyum. 

Atau jika tak ada lagi untuk burung gereja hinggap, maka biar jingga merah ini tersingkap jadi gelap. Walau memang aku tahu harus demikian. Dan sudah berapa saran menyikapi sekian. Lalu, leleh getar debar serupa wangi mawar dalam balutan ketidakmampuan. 

KUPU-KUPU MURUNG

  Hai dinda, Apa kabar di sana? Kurasa malammu baik-baik saja. Kuingat saat pertama matamu menjangkau mataku Ada luka dalam di sana, yang en...