Wednesday, May 16, 2018

Perjalanan

Sendu yang kutemui kali ini adalah kehampaan diri yang tak tahu dimana berpijak dan sekuat apa langkah menjejak.

Senja dan perjalanan, ajarkan aku; Tentang sebuah tujuan, syarat untuk sampai dan melepaskan segala lelah dan resah. Untuk meluapakan segala pekik karena tercekik nafas diri dari nafsu diri.

Merah. Atau malah jingga redup dan menenangkan disana. Adakah disana kiranya kutemui senyummu juga.

Kini kiranya aku jadi tak sudi lelah, tapi tak mau juga jadi pemalas yang enggan payah.
Itu saja.

Saturday, May 12, 2018

Renungan

Ada satu musim dimana kembang mekar bersama gerimis yang membasahi tiap daun gugur di tepi rumput.

Setelah senja pulang dan malam berhias angin dingin yang membawa getir berayun di wajahmu, seirama gerimis.

Malam kadang lebih kejam dari kenangan. Membuat tubuhnya luas di tengah luka yg makin membuas.

Getir dan getar menyatu di jiwa insan yg mendayung sampan di samudra malam setelah purna jingga dari langit senja.

Nampaknya Surya masih belum puas tidur bersama Kokok ayam jago yang masih pulas dibuai malam yang bias. Bersama mimpi-mimpinya yang makin lugas seakan nyata realita tak ada beda.

Pelukan gelap nampaknya semakin dalam mendekap menusukkan tiap getir yang memberi getar pada luka yang menganga kala sepi mendera.

Apakah yg bisa dilakukan selain kepasrahan akan yang esa. Tentang laku yang sudah digaris memaku dan menyatu dalam tangis serta kepala yang makin menukik bersama histeris dalam kelam.

KUPU-KUPU MURUNG

  Hai dinda, Apa kabar di sana? Kurasa malammu baik-baik saja. Kuingat saat pertama matamu menjangkau mataku Ada luka dalam di sana, yang en...