Tuesday, December 5, 2017

Sajak-sajak Sepi

Sepi kali ini bukan lagi sepi.
Ada riuh gemuruh
Pada dinding hati yang pudar dan keruh.
Ketika debar cemas kehilangan
segera datang
aku masih menatap potretmu
yang terpampang kaku di galeriku.

Pada papir aku bercerita;
Tentang dara jelita
dengan mata menyala
berpeluk kepedihan.
Tapak-tapak jarak mengukir luka
di senyummu
klambu tebal enggan kau singkap.
Rindu-rindumu masih saja kau dekap.

Sempat aku bertanya,
Adakah rimbun pundakku Sudi kau huni?
Bersama nyanyi burung dan bukit hijau berayun, serta gerimis

Namun kurasa,
airmata dingin sudah lebih dulu;
mengusirku
Mengembalikan aku
Ke haribaan malam beserta kebekuannya.
Dan tanpa mata indahmu
Tanpa senyummu
Tanpa kemarahanmu
Tanpa aku.

Thursday, September 28, 2017

Sirius Star

As I write this I may have flown away. Far embracing another star that accompanied me until dawn arrived.

Leaving you alone on earth with all the lamentations, submissions, and broken things.
Time is a good teacher. Make you steadfast and strong.

There is a sense that God entrusted only to be remembered, there is a sense that you just hug with longing, then blessed.

Wind presents a mild symphony Melt a tear that feels warm in the cheeks.

Remove your tears and wake up Do not be sad, do not cry, I hate if you do.
Understanding,

Saturday, September 9, 2017

Wedding Solikin

Magelang, Awal September 2017.

Kabut tipis perlahan turun dari rona gagah andong yang tengah rebah dibawah langit gelap Ngablak. Tak terdengar suara katak atau jangkrik yang bernyanyi. Kukira mereka sibuk dengan anak dan istrinya nonton tv atau main Smartphone di ruang tamu sarangnya, mungkin di salah satu selokan atau lubang tanah.

Angin panas Semarang tiup tubuhku sampai ke satu tempat di sisi semesta menghembus hawa dingin yang menusuk tulang. Satu malam di antara gunung andong, sumbing, dan Merapi. Betapa bahagia hidup disini. Penuh keakraban penuh canda tawa yang sebentar lagi akan aku lepas.

Tuesday, August 1, 2017

Angin di Kepalaku

Rimbun yang dulu anggun
Kini terjebak dalam gurun,
Setia senja bersama (inginnya)
Bagai mahoni di kemarau panjang.
Tamu datang kemudian pulang.

Adakah sumbu rindu yang kelak aku sulut menjadi sebuah ledakan yang begitu menyesakkan?

Angin timur bawa aku semakin berumur,
Bawa aku ke jurang penuh lebur
warna emas dan semburat jingga sebelum rekah dan rengkuh akhirnya aku disana. (Ternyata Begini)

Monday, June 12, 2017

Lesat Pesat

Ini aku...
yang ingin berdiri bersama kakiku.

Mandi bersama peluhku
Rebah bersama lelahku
Dan diam bersama senduku.

Ini aku..
yang ingin jadi kekar
Kala sinarmu mulai pudar

Ini aku...
tanggal dari buaian
Seduh sedih dengan kesendirian.
Selagi waktu belum berujung kaku,
Izinkan aku menyusuri kesendirianku

Ini aku..
Walau tak seindah Affandi
Kuingin lukis senyum yang bersemi
Dari warna indah binar matamu.

Ini aku...
Yang berlari ke lautan dingin
Terbang bersama angin.

Tunggu aku
rebah kembali dalam buaian
Rekat hangat pada dekapan
Saat nantiku terayu kerinduan.

Aku ingin di dekatmu,
terbenam dalam dekap hangat peluk rindumu dan rinduku yang padu.
Namun, biarkan aku mencari ceritaku dahulu.
Bekal kelak jadi penghibur untukmu.

Tak ada lain kuharap,
selain fajar senyuman
di rona senjamu.

Friday, March 10, 2017

PEMBUNUH TANPA PEDANG

Sabtu Dini Hari....

Saya merenung duduk dan membiarkan kopi yang baru diseduh dingin. Saya coba pelajari dan pahami tiap hal yang terjadi. Saya coba kuasai. Mencoba hadapi dan tidak lari. Karena lari bukan kebebasan untuk seorang lelaki.

Saya pemimpin dari sahabat-sahabat saya di tempat kerja. Harusnya saya adil, harusnya saya tulus, harusnya saya bijak. Harusnya saya bisa memanusiakan manusia, saya harus bisa mendampingi mereka saat sulit karena itu tanggung jawab saya. Saya harus bisa lindungi mereka.

Malam ini dada saya sangat sesak, bahkan bicara pun tak bisa. Belum sebulan saya penggal mata pencaharian dua sahabat saya dihadapan para kolega-kolega saya.

Dulu memang saya lebih dari ini. Seorang algojo, eksekutor, dan juru tembak. Atau mungkin lebih tepatnya joki peti mati.

Tapi diposisi sekarang ini saya merasa seperti seorang rachib yang dipaksa jadi algojo pemenggal kepala manusia. Sama seperti yang dikisahkan Iwan Simatupang dalam bukunya; "Merahnya Merah".

Rachib yang mengampuni tiap penganut Katholik di bilik gereja, jadi pemenggal kepala manusia dihadapan semesta.

Baru kemarin hati saya diisi sesuatu berharga yang membuat hidup saya seperti kembali terang lewat cahaya kecil yang dibawa seorang gadis. Tapi sepertinya takdir memaksa saya jadi orang yang dingin. Pembunuh tanpa pedang dan peluru.

Yang dibenci.
Yang kesepian.
Yang sendirian.
Dan
Yang meminta ribuan maaf padamu, kawan.

Sebuah Ucapan Maaf

Tak ada yang ingin kubagi hari ini,
Karena semuanya masih seperti biasanya.
Dawai angin lembut mengalun harmoni
Lembut bercahaya seperti pelangi

Maaf...
Jika lelahmu masih kutindih dengan gelisah.
Waktu-waktu yang resah
Kelak jadi bingkisan sebuah tanya di hatimu
Ketika langit jatuh di pangkuanmu,
Di tangan yang tengadah pilu.
Di tengah malam yang abu-abu.

KUPU-KUPU MURUNG

  Hai dinda, Apa kabar di sana? Kurasa malammu baik-baik saja. Kuingat saat pertama matamu menjangkau mataku Ada luka dalam di sana, yang en...