Magelang, Awal September 2017.
Kabut tipis perlahan turun dari rona gagah andong yang tengah rebah dibawah langit gelap Ngablak. Tak terdengar suara katak atau jangkrik yang bernyanyi. Kukira mereka sibuk dengan anak dan istrinya nonton tv atau main Smartphone di ruang tamu sarangnya, mungkin di salah satu selokan atau lubang tanah.
Angin panas Semarang tiup tubuhku sampai ke satu tempat di sisi semesta menghembus hawa dingin yang menusuk tulang. Satu malam di antara gunung andong, sumbing, dan Merapi. Betapa bahagia hidup disini. Penuh keakraban penuh canda tawa yang sebentar lagi akan aku lepas.
No comments:
Post a Comment