Little Boy
Friday, March 13, 2026
KUPU-KUPU MURUNG
Sunday, November 3, 2024
Puisi Dari Pulau Bawean
Baru-baru ini saya ditunjuk sebagai project manager untuk area terintegrasi di pulau Jawa untuk mengembangkan skema bisnis diarea-area tersebut. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah pada saat mendapat kesempatan untuk study banding atau benchmark ke wilayah Pulau Bawean di Kecamatan Sangkapura, Kabupaten Gresik.
Untuk kalian yang belum tahu mengenai pulau Bawean ini, adalah sebuah gugusan pulau kecil di area Utara Jawa Timur. Untuk sampai ke sana kami berangkat dari Bandara Juanda Surabaya menggunakan armada pesawat kecil Susi Air.
Pulau ini indah sekali. Namun ketika sampai di sana, rasanya seperti kita tidak berada di bagian pulau Jawa. Mayoritas masyarakat di sini bukan penduduk asli. Ada yang dari Sulawessi, Maluku, sampai Kalimantan. Jarak pulau ini dari kota terdekat yaitu Gresik sekitar 150 kilometer.
Saya menghabiskan hari-hari saya di Bawean dengan selalu meluangkan waktu di Pantai Selayar. Sebuah pantai yang hampir mirip dengan Banda Neira. Sebuah tempat yang sangat saya kunjungi dari kecil. Duduk memandang laut dengan gugusan pulau yang indah sambil mendengarkan lagu Fredy Mercury - Love Me Like Theres No Tomorrow membuat angan saya terbayang dengan seseorang dari Kota ini yang entah dimana sekarang dia berada.
Saya membayangkan tentang indahnya sore di Selayar dengan hangat candanya. Seperti romantisnya Ragnar dan Lagertha saat pulang dari pertempuran. Rasanya mungkin seperti puisi yang sengaja tuhan goreskan di atas Pulau Bawean. Saya juga tidak tahu, mengapa tuhan membawa saya ke Pulau ini. Ke kota ini. Padahal baru saja bulan lalu saya sudah berniat menutup buku tentang seseorang ini.
Di tegukan kopi terakhir saya memahami, mungkin tuhan sedang memberi saya pelajara kembali. Puisi itu indah, sangat indah. Namun hanya bisa kau rasakan tanpa kau sentuh kehadirannya. Seperti Sangkapura dan Bawean, jauh namun tetap indah saat kutemukan tanpa perlu menetap dalam dekapan.
Akhirnya sore di Selayar redup bersamaan dengan berakhirnya perjalanan saya di Pulau ini. Untukmu yang ada jauh di sana. Semoga tuhan selalu melimpahkan keselamatan serta kebahagiaan. Yang terdalam dalam palung hati, sembunyi rasa yang akan tetap terkunci, entah tuhan izinkan terbuka kembali untuk bersemi atau selamanya terkubur abadi.
Thursday, October 10, 2024
Harmoni Gelap Corey Taylor
Baru-baru ini saya sedang menikmati sebuah tayangan video yang menampilkan konser dari seorang Corey Taylor yang diadakan di London beberapa tahun yang lalu. Awalnya saya sedang menikmati musik via youtube sebagai teman kerja. Dengan fitur autoplay akhirnya tibalah pada video konser dari Corey Taylor ini.
Kembali ke konser Corey Taylor, video ini menjadi sangat special karena jarang sekali melihat seorang Corey Taylor melepaskan topengnya di atas panggung. Saya sangat tertarik ketika dia sedang menyanyikan lagu Snuff dengan diiringi petikan gitar akustik yang penuh emosional.
Tampak sekali kesenduan di sana saat Taylor menyanyikannya. Seperti ada perasaan yang sangat ingin dia hempaskan saat menyanyikannya. Kegetiran disetiap nada dan teriakannya membuat penampilannya semakin emosional.
Yaitu pada bagian ini:
Source: Corey Taylor - Snuff
Sunday, June 2, 2024
PAGI
Saya awali jurnal ini dengan berpikir tentang sesuatu yang sudah saya miliki, yang kadang terlupakan betapa pentingnya itu di saat badai keluh mendera hati dan isi kepala.
a. Saya punya pekerjaan yang mungkin orang lain dambakan
b. Tuhan kasih saya kesehatan yang mungkin di dambakan orang lain
c. Saya punya waktu untuk kapan saja bercanda dengan orang yang saya kasihi yang dalam beberapa tahun terakhir ini tidak bisa saya lakukan
Pagi ini saya sedang merindukan Yogyakarta. Dengan suasana paginya, siangnya, sorenya, dan malamnya. Kawan-kawan di sana, makanannya, dan semua kenanganannya. Walau tak lama entah kenapa susah sekali melupakannya.
Lantunan suara Nadhin Amizah membuat rasa itu semakin dalam. Semakin brutal. Mengingat kisah di awal tahun 2023. Tentang persahabatan dan tentang kebohongan. Ah mungkin keserakahan dan dalam hal ini subject sepenuhnya ada di saya.
Saya ingin sekali lagi menembus kali urang di tengah gerimis tipis, dengan canda yang pecah dan rasa yang sangat hangat itu. Ah sudahlah jangan begini, sudah ya. Bahagia di sana dan tetaplah abadi di sana.
Saturday, September 23, 2023
JURNAL 1
Saya sedang tidak begitu mengerti dunia. Ah tidak, mungkin lebih kepada tidak mengerti kemauan diri saya. Atau lebih kepada orang yang tidak bersyukur dengan yang saya punya sekarang. Banyak hal indah yang saya punya dahulu dan saya buang jauh begitu saja. Saya biarkan retak dan mencoba menghapus jejak.
2018 adalah tahun keemasan di dalam karir saya. Saat itu hampir semuanya saya peroleh. Persahabatan, kepercayaan, rasa nyaman, pencapaian, dan banyak hal. Saat ini saya berpikir betapa saya salah langkah dalam mengambil keputusan. Semoga untuk kali ini saya tidak kembali salah langkah.
Semarang salah satu kota yang mempunyai ciri makanan dengan rasa manis, bahkan kadang saking manisnya tiap rasa yang berpindah ke indra kita akan susah terlupakan. Banyak hal yang sudah diajarkan kota ini kepada saya. Kota ini mengajarkan bertahan melawan badai serta merangkak menuju angkasa.
Karena rasa sangat percaya kepada seorang pimpinan pada akhirnya saya merasa wajib mengikuti tiap jejaknya. Selain karena hutang jasa, beliau pula yang selalu ada untuk sekedar bercerita. Namun justru langkah itu membuat saya terjun bebas ke dalam jurang dan menenggelamkan karir saya. Di saat saya menyadari saya salah langkah dan mulai berusaha survive dengan pilihan saya dan badai lain kembali hadir.
Pada akhirnya takdir menerbangkan burung kecil dari utara menuju selatan. Mindset salah dari utara membuat saya terseok-seok di selatan. Bertahan pada satu posisi tanpa perlu pikir panjang asal jumlah hasil yang diterima sebanding dengan keringat yang dikeluarkan.
Kini saya harus kembali survive dengan kondisi sekarang, saya sudah tidak bisa putar arah. Tenaga sudah rapuh dipangan usia sedang ilmu dan tanggung jawab tak kunjung naik. Saya dilempar dari satu kolam kecil ke kolam lain. Atas dasar kesetiakawanan saya berusaha sebijak mungkin menyikapi diri saya yang ternyata menjadi seorang pesakitan.
Namun kali ini saya harus berusaha bertahan, survive dan tak tergoda apa pun. Sabar dan tidak menyalahkan orang lain. Tapi sejujurnya sulit sekali menjalani sesuatu yang berlawanan dengan nurani. Saya coba berkeluh kesah namun semuanya mentok. Kemudian malam ini saya coba pikir dan ulang kembali tentang rekam jejak ingatan. Tentang menjadi diri sendiri, merasa cukup, tidak sombong, dan tanggung jawab.
Saat ini saya sedang berada di tengah samudera yang awaknya seolah saling bermusuhan. Saya sangat tidak nyaman dengan kondisi ini. Dahulu saya punya pegangan berupa rasa percaya kapten kapal. Sedang sekarang saya hanya orang asing buangan yang mestinya bersyukur di tampung di sebuah kapal yang sudi memberikan sesuap nasi di tiap harinya.
Apakah takdir saya selalu harus salah pilih? Saya rasa tidak. Karena saya berusaha menjadi bijak. Namun pada akhir-akhir ini saya merasakan bahwa konsekuensi dari "bijak" itu sendiri adalah pengorbanan perasaan. Setiap hari, setiap waktu, setiap saat kini saya hanya berusaha melewati waktu demi waktu untuk kebahagiaan orang lain.
Apakah saya mesti nekat melompat? "Ngolot...!!!" barangkali saya akan mencoba bertahan di tengah kemunafikan ini dalam pangkuan tutur bahasa yang tak terkata. Mengamati dan mencari pelabuhan yang mungkin membawaku kembali ke tanah tempatku dilahirkan.
Saturday, April 8, 2023
CINEMA BAKERY 2
1
Minggu sore itu aku tidak punya hal yang lebih
baik untuk dilakukan, dan merasa sedang terbuka untuk mendapat pengalaman baru,
jadi aku memutuskan untuk mengunjungi rumah Kak Sytha di daerah Kota Gede bersama
pacarku.
Tidak terlalu sulit untuk menemukan rumah Kak Sytha. Itu adalah sebuah rumah
kecil namun menarik, dengan jendelanya yang luas terbuka menawarkan udara
segar.
Aku duduk di sebuah sofa, di ruang tamu yang ada di sebelah kanan, dan itu
tampak seperti tempat yang tepat untuk berkumpul. Aku masih ingat warna dan
tekstur langit-langit rumahnya sampai hari ini.
“Jan apik bianget umahmu, Mbak Ayu”, kataku dengan
logat Bahasa Jawa ngapak.
Kak Sytha tersenyum mendengar ucapanku. Senyum
yang sama saat di café sebuah senyum sederhana yang mengahangatkan
“Siapa ini, Nang?” tanya Kak Sytha
“Oh iya, lupa. Ini Elisa dia
pacarku, Kak.”
Kemudian selayaknya orang yang
sedang berkenalan dengan ramah mereka saling berjabat tangan dan melempar senyuman.
“Kak Sytha tinggal sendiri di
sini?”
“Engga, aku bersama saudara, tetapi sudah
seminggu dia sedang pergi ke Semarang”
“Owalah”
Aku melihat, ada banyak foto yang tergantung di ruang tamunya. Aku juga melihat
beberapa piagam penghargaan yang tertulis atas nama Masytha Febria.Sepertinya
itu adalah sebuah memory yang sengaja Kak Sytha kumpulkan untuk mengenang tiap
momen di hidupnya. Semuanya berbicara tentang masa indah sepertinya, sebagai bingkisan
yang diberikan waktu kepadanya. Memang waktu adalah sesuatu yang teramat
bajingan, mudah mengukir kenang tapi tak sudi mengulang. Di dalam foto itu aku
melihat Kak Sytha masih seorang gadis remaja yang polos dan lugu.
2
Setelah itu, kami bersama percakapan yang sangat
khusus, di mana emosi langsung terasa di ruang tamu. Lonceng kecil yang
menggantung di depan pintu, menggemerincing ditiup angin.
“Banyak memori yang terekam di kota ini,
sehingga aku sangat rindu tiap kali harus meninggalkan kota ini”, katanya
sambil menunjuk sebuah foto bersama teman-temannya. “Seakan Yogyakarta selalu
menghisapku dari jarak jauh”
“Ini Kak Sytha?”, kutanya sambil memandang
sebuah foto di mana Kak Sytha sedang duduk melamun.
“Iya. Itu aku waktu masih muda. Cantik tidak?” Dia
tersenyum
“Cantik, Kak” Jawabku dan Elisa bersamaan.
“Itu apa kak?” Tanya Elisa sambal menunjuk ke
sebuah kotak kayu kecil berwarna cokelat di sebelah foto Kak Sytha. Di atas
kotak itu ada ukiran gambar dua dimensi dengan kalimat from Jogja with love.
“Hmmm…Kamu pintar Elisa memperhatikan sesuatu.”
Kemudian Elisa meminta izin untuk memegangnya. Elisa
mencoba membuka kotak music itu, terlihat ada foto Kak Sytha yang diukir dengan
design dua dimensi dan sepotong tulisan yang sudah mulai pudar.
Saat kotak music itu terbuka, di
saat yang sama pula terlantun instrument “Castle In The Sky”. Lagu lama
dari cerita fantasi eropa dimana karakter utama wanitanya Bernama Sytha.
“Wah, manis sekali ini kak? Kakak
beli dimana?” Tanya Elisa
“Seseorang memberikannya kepadaku dahulu. Maaf tapi aku tidak tahu tempat dia
membelinya”
“Makanya jangan penginan gitu kamu tuh.” Ledekku
kepada Elisa
“Lha kenapa toh? Biarin sih, lagian ini manis
sekali. Aku susah kak carinya, apalagi aransemennya di pas sama soundtrack kisah
yang tokoh utamanya seperti nama kakak.”
“Ntar tak beliin yang soundtracknya donal bebek kaya kamu.” Kataku menggoda
Elisa
“Nyebahi, kamu itu”
Gerutu Elisa
Kak Sytha tertawa melihat tingkah
kami
“Nyebahi, sudah lama
sekali aku tak mendengar kata itu. Elisa, dulu yang memberikan kotak itu
kepadaku adalah orang yang Nyebahi juga sama seperti Dewa.
“Oh ya? Apakah dia mantan Kak Sytha?”
Elisa bertanya dengan mimic wajah menggoda Kak Sytha
“Heh, enggak sopan main
tanya-tanya. Lagian baru kenal, sok akrab banget sih, El” Tepisku
“Oh maaf ya, Kak. Aku bercanda
soalnya Kak Sytha ini orangnya ramah dan asyik sih jadi udah gampang kerasa
deket aja gitu”
“Enggak apa-apa Elisa, justru aku
seneng kalian tidak canggung begini.” Kak Sytha tersenyum
Kak Sytha menceritakan memang
yang memberikan kotak itu bukan mantan kekasihnya, namun sepertinya ada kisah
yang teramat sangat ingin dia ceritakan karena mungkin kisah itu sudah lama tak
dia ceritakan kepada orang lain. Kisah yang sepertinya membuat Wanita ramah ini
membendung rindu teramat sangat sehingga mesti membuatnya terjun ke dalam
jurang kehilangan bernama ingatan.
Kak Sytha tidak mengatakannya
secara langsung, namun semua itu tergambar jelas di raut wajah dan matanya saat
dia mengisahkan sepercik tentang kotak music itu.
“Kak Sytha, sepertinya menarik
sekali. Boleh tidak kak aku dengar kisah Kakak dan laki-laki itu dari awal
pertemuannya.” Rengek Elisa
Bukan Elisa Namanya kalau tidak
penasaran dengan kisah dua insan yang jatuh cinta. Karena memang pacarku ini
adalah penggila novel roman.
“Aku akan menceritakannya kepada
kalian, dan mungkin kalian adalah dua orang pertama yang aku ceritakan secara
detail mengenai dia. Manusia yang membendung airmata dibalik tawa, yang pernah
membuat Yogyakarta menjadi lebih manis dan istimewa dari biasanya.”
“Wah mau-mau, Kak. Aku bakal nyimak
betul” Kata Elisa antusias.
Kak Sytha tersenyum.
Sepertinya Kak Sytha akan
mengajak kami berjalan di lorong gelap hatinya, dimana di sana ada jurang kehilangan
dan kepingan rindu-rindu yang dingin.
Aku dan Elisa membetulkan posisi
duduk, Kak Sytha duduk dihadapan kami dengan kotak music di genggamannya.
Dari penulis:
“Lanjutannya masih rahasia ye…hahahahaha”
Friday, April 7, 2023
CINEMA BAKERY
“Apakah
saat kamu ke sana dalam keadaan hujan atau gerimis?”. Tanya kak Sytha
"Kebetulan
iya kak, suasana saat aku ke sana gerimis turun saat hendak pulang. Tapi menurutku suasana perjalanannya jadi lebih indah. Walaupun pada waktu itu
aku mesti sedikit kuyup karena jas hujanku ternyata berlubang, kak"
Kak
Sytha tersenyum dan berkata, "Ya, memang sangat indah jika kamu turun saat
kondisi gerimis. Jika kamu bersama seorang perempuan tentu itu akan jadi momen
yang sangat romantis bukan?"
"Hahahah,
betul kak. Kata orang Yogya dan hujan adalah kombinasi romantis yang
manis" Jawabku
"Ah
tidak juga. Tetap saja atis. Dulu pernah ada seseorang yang
mengucapkan hal yang sama kepadaku. Namun dia segera merevisinya. Katanya
romantis apaan atis begini, sama sepertimu itu dia mengucapkan
dengan logat Jawa ngapaknya yang medok"
Awalnya
aku ragu untuk tertawa, tapi melihat Kak Sytha tertawa aku pun jadi ikut
tertawa. Pada akhirnya kita tertawa bersama.
Kak
Sytha orang yang sangat menyenangkan untuk bercerita. Dia seru, lucu, dan
sangat perhatian ketika lawan bicara sedang berbicara.
Saturday, February 25, 2023
Art of Broken
Belakangan saya kehabisan cara untuk mengisi waktu sepulang kerja terutama pada akhir pekan ketika tidak ada aktivitas. Sering kali pikiran tak terkendali jika kondisi tidak mengerjakan sesuatu yang positif. Kosong. Khawatirnya malah menjurus ke hal yang sangat negatif.
Saya coba mainan baru, sebuah hiburan lama yang sudah jarang saya mainkan. Menulis dan melukis. Susah sekali ketika kita ingin melakukan sesuatu yang sudah lama tidak kita lakukan.
Saya selalu suka buku-buku, lukisan, harmoni, dan kata-kata yg ada di puisi. Pada akhirnya dalam dua Minggu terakhir saya menghabiskan waktu untuk melukis dan sesekali menulis untuk melampiaskan pikiran dan mengisi waktu luang di akhir pekan atau setelah pulang kerja
Saya suka puisi dan lukisan abstraksi, karena seseorang akan sulit memahami apa yang ingin kita ungkapkan dalam arti yang sebenarnya. Sehingga orang tidak perlu tahu kesedihan atau kebahagiaan yang sedang kita sampaikan, biar mereka menilai dengan presepsi mereka sendiri.
Lanjut,
Saya mulai melukis. Mengawali goresan dengan meracik perpaduan warna yang menghasilkan kilau terang yang semburat dalam cerah. Cuman setelah saya lihat hasilnya sedikit terlalu cengeng.
Saya coba rubah racikan warnanya, kali ini saya tambahkan warna gelap yang tegas, kemudian saya aplikasikan dalam goresan kasar tak beraturan supaya menimbulkan sisi luapan emosional
Saya pilih dasar putih yang dipadukan dengan warna gelap yang pekat sebagai simbol ketidakpastian, lalu saya tambahkan kilau terang agar tidak memberi kesan mati pada lukisannya, namun saya coba gunakan percampuran warna yang menghasilkan warna cerah tapi tidak memberi kesan melow. Tujuannya agar tidak terlihat sendu atau menye-menye seperti boy band korea. Hahahaha. Hasilnya cukup emosional dan lebih natural (kurasa)
Saya mengerjakan lukisan kurang lebih sepuluh hari, mungkin bernilai jual cuman tidak akan saya jual. Hanya saja konsekuensi dari kegiatan ini saya mesti dapat omelan berkali-kali karena ada saja yang dikorbankan. Baik lantai di gudang belakang dan celana jeans butut andalan. Ya sudahlah yang penting happy. hihihi
Lanjut,
Saya lanjut melukis, kali ini saya mencoba membuat garis simetris. Saya rubah pola creating & skalanya dari kanvas menjadi kertas, kemudian dari kuas saya rubah jadi lebih tajam menggunakan pena drawing. Awalan cukup berantakan, karena tak ada kesempatan kedua ketika kita menggunakan bolpoint.
Maka pada kesempatan selanjutnya, saya coba gambar menggunakan pensil.
Oh iya, tempo hari seseorang pernah bercerita ada tempat makan enak yang wajib saya kunjungi "Penyetan Ayu Sakti" maka sebelum mampir ke cafe Basabasi untuk mencari inspirasi, saya sempatkan mengisi perut di penyetan Ayu Sakti.
Di cafe Basabasi saya menantang diri saya membayangkan rupa seseorang tanpa melihat fotonya, hanya berdasarkan ingatan yang dituangkan dalam lukisan atau sketsa gambar lebih tepatnya. Tapi setelah saya pikir, baiknya mungkin saya melukis tidak dengan wajah tapi cukup dari busana dan gestur orangnya saja.
Hanya saja setelah saya lihat hasilnya, ternyata kurang presisi tapi cukup menggambarkan anggunnya wanita yang saya gambarkan. Saya namakan (dia) lukisan ini, "Di Balik Punggung Mbak Nur" Hahaha
Begini hasilnya:
Bonus puisi untuk menikmatinya:
Sampai kudengar sayup-sayup kibas pucuk kerudungmu berdesir di pangkal ingatanku, aku masih laki-laki yang sama; yang memberanikan diri untuk menantang matamu, membaca nasibku.
Sebab, Cah Ayu... menjalani sebuah kegagalan masih bisa dimengerti daripada tidak menjalani apapun, sama sekali.
Oke, Demikian cerita ini berakhir. Good Night & Adios.
Monday, February 6, 2023
Hijrah ke Mars
Friday, January 13, 2023
AKITA & DANAU CINTA DUA NAGA
Wednesday, May 11, 2022
Tak Bicara
Gelap menuju terang
degup genderang, tak kunjung hilang
sebuah harapan terhalang ilalang.
Tersesat pada penantian menaun,
doa-doa yang tak henti dipanjatkan
menuju akhir dari sebuah penantian
tangis tercekat dan teriak tersekat,
lebih menyakitkan dari leher terikat.
Seseorang bisa mati kedinginan di tengah gurun.
juga bisa mati terbakar di bawah samudera.
Ingin berupaya karena putus asa bukan jalannya
namun sudah kehilangan cara untuk sampai padanya.
Pilihan akan sebuah kenyamanan jadi boomerang
suatu kata-kata yang menyulut genderang perang.
Di rajam tubuh sendiri,
oleh ingatan dan penglihatan.
Bertahan sekuat hati.
Pilar butuh sandaran untuk pegangan.
Sampai pada batas kesabaran, pilar dihempaskan kesepian
bersama ketakutan yang selalu dia bayangkan.
Semoga tegar senantiasa pada linimasa.
KUPU-KUPU MURUNG
Hai dinda, Apa kabar di sana? Kurasa malammu baik-baik saja. Kuingat saat pertama matamu menjangkau mataku Ada luka dalam di sana, yang en...
-
Dari balik rambutmu, salju turun menabur pilu. Kicau burung menunggu, bersama kopi dan buku-buku. Serta hangat senja disisimu Bulan ini belu...
-
Seperti surat kaleng di laut yang entah kapan sampai pada tujuan. Terombang-ambing bersama deru angin mendesing memukul sepi. Berayun bergel...









.jpg)