Friday, March 13, 2026

KUPU-KUPU MURUNG

 




Hai dinda,
Apa kabar di sana?
Kurasa malammu baik-baik saja.

Kuingat saat pertama matamu menjangkau mataku
Ada luka dalam di sana, yang entah kenapa aku ingin sekali memeluknya.
Terasa banyak luka di punggungmu dan ingin kuucap;
Huni saja rimbun pundakku.

Namun sayang aku lupa,
Aku adalah kupu-kupu murung
Yang ditakdirkan tersenyum dan merenung.

Hai dinda,
Semoga yang ditinggalkan tetap kau jaga.
Aku ingin kau terbang indah seperti kupu-kupu biru
Sesuatu yang langka dan susah di jamah karena keelokannya.

Hai dinda,
Jaga senyummu di sana.
Setidaknya untuk malam ini saja.
 


Sunday, November 3, 2024

Puisi Dari Pulau Bawean

Baru-baru ini saya ditunjuk sebagai project manager untuk area terintegrasi di pulau Jawa untuk mengembangkan skema bisnis diarea-area tersebut. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah pada saat mendapat kesempatan untuk study banding atau benchmark ke wilayah Pulau Bawean di Kecamatan Sangkapura, Kabupaten Gresik.

Untuk kalian yang belum tahu mengenai pulau Bawean ini, adalah sebuah gugusan pulau kecil di area Utara Jawa Timur. Untuk sampai ke sana kami berangkat dari Bandara Juanda Surabaya menggunakan armada pesawat kecil Susi Air.

Pulau ini indah sekali. Namun ketika sampai di sana, rasanya seperti kita tidak berada di bagian pulau Jawa. Mayoritas masyarakat di sini bukan penduduk asli. Ada yang dari Sulawessi, Maluku, sampai Kalimantan. Jarak pulau ini dari kota terdekat yaitu Gresik sekitar 150 kilometer.

Saya menghabiskan hari-hari saya di Bawean dengan selalu meluangkan waktu di Pantai Selayar. Sebuah pantai yang hampir mirip dengan Banda Neira. Sebuah tempat yang sangat saya kunjungi dari kecil. Duduk memandang laut dengan gugusan pulau yang indah sambil mendengarkan lagu Fredy Mercury - Love Me Like Theres No Tomorrow membuat angan saya terbayang dengan seseorang dari Kota ini yang entah dimana sekarang dia berada.


Saya membayangkan tentang indahnya sore di Selayar dengan hangat candanya. Seperti romantisnya Ragnar dan Lagertha saat pulang dari pertempuran. Rasanya mungkin seperti puisi yang sengaja tuhan goreskan di atas Pulau Bawean. Saya juga tidak tahu, mengapa tuhan membawa saya ke Pulau ini. Ke kota ini. Padahal baru saja bulan lalu saya sudah berniat menutup buku tentang seseorang ini.

Di tegukan kopi terakhir saya memahami, mungkin tuhan sedang memberi saya pelajara kembali. Puisi itu indah, sangat indah. Namun hanya bisa kau rasakan tanpa kau sentuh kehadirannya. Seperti Sangkapura dan Bawean, jauh namun tetap indah saat kutemukan tanpa perlu menetap dalam dekapan.

Akhirnya sore di Selayar redup bersamaan dengan berakhirnya perjalanan saya di Pulau ini. Untukmu yang ada jauh di sana. Semoga tuhan selalu melimpahkan keselamatan serta kebahagiaan. Yang terdalam dalam palung hati, sembunyi rasa yang akan tetap terkunci, entah tuhan izinkan terbuka kembali untuk bersemi atau selamanya terkubur abadi.


Thursday, October 10, 2024

Harmoni Gelap Corey Taylor

Baru-baru ini saya sedang menikmati sebuah tayangan video yang menampilkan konser dari seorang Corey Taylor yang diadakan di London beberapa tahun yang lalu. Awalnya saya sedang menikmati musik via youtube sebagai teman kerja. Dengan fitur autoplay akhirnya tibalah pada video konser dari Corey Taylor ini. 


Corey Taylor, sebelum saya bercerita lebih jauh sepertinya ada baiknya saya menceritakan siapa Corey Taylor. Dia adalah seorang vokalis dari band beraliran heavy metal dari Amerika yang bernama Slipknot. Dia jarang sekali menampilkan wajahnya disetiap aksi panggungnya. Karena memang itu jadi salah satu ciri khas dari band ini sendiri.



Saya menyukai band ini sejak saya masih dibangku sekolah dasar. Dimulai dari teman-teman nongkrong yang punya stiker dari logo band ini yang mungkin kalau saat ini bisa dibilang "viral", saya jadi penasaran dengan lagu-lagunya. Mungkin bisa dibilang saya mulai menyukai musik heavy metal karena band Slipknot ini.

Kembali ke konser Corey Taylor, video ini menjadi sangat special karena jarang sekali melihat seorang Corey Taylor melepaskan topengnya di atas panggung. Saya sangat tertarik ketika dia sedang menyanyikan lagu Snuff dengan diiringi petikan gitar akustik yang penuh emosional.

Tampak sekali kesenduan di sana saat Taylor menyanyikannya. Seperti ada perasaan yang sangat ingin dia hempaskan saat menyanyikannya. Kegetiran disetiap nada dan teriakannya membuat penampilannya semakin emosional.

Lagu yang menceritakan tentang kehilangan yang teramat dalam hingga seseorang ini tidak lagi mengingatnya dan sekuat tenaga melawan hatinya. Dari semua bait ada bagian yang membuat saya sangat "mak jleb..!!" jika dalam bahasa jawa.

Yaitu pada bagian ini:
So, if you love me, let me go
And run away before I know
My heart is just too dark to care
I can't destroy what isn't there
Deliver me into my fate
If I'm alone I cannot hate
I don't deserve to have you
Ooh, my smile was taken long ago
If I can change I hope I never know

Seperti ada yang hancur dan berkeping-keping di dalam dada. Hahahaha asudahlah.


Source: Corey Taylor - Snuff




Sunday, June 2, 2024

PAGI

Saya awali jurnal ini dengan berpikir tentang sesuatu yang sudah saya miliki, yang kadang terlupakan betapa pentingnya itu di saat badai keluh mendera hati dan isi kepala.

a. Saya punya pekerjaan yang mungkin orang lain dambakan

b. Tuhan kasih saya kesehatan yang mungkin di dambakan orang lain

c. Saya punya waktu untuk kapan saja bercanda dengan orang yang saya kasihi yang dalam beberapa tahun terakhir ini tidak bisa saya lakukan

Pagi ini saya sedang merindukan Yogyakarta. Dengan suasana paginya, siangnya, sorenya, dan malamnya. Kawan-kawan di sana, makanannya, dan semua kenanganannya. Walau tak lama entah kenapa susah sekali melupakannya.

Lantunan suara Nadhin Amizah membuat rasa itu semakin dalam. Semakin brutal. Mengingat kisah di awal tahun 2023. Tentang persahabatan dan tentang kebohongan. Ah mungkin keserakahan dan dalam hal ini subject sepenuhnya ada di saya.

Saya ingin sekali lagi menembus kali urang di tengah gerimis tipis, dengan canda yang pecah dan rasa yang sangat hangat itu. Ah sudahlah jangan begini, sudah ya. Bahagia di sana dan tetaplah abadi di sana. 


 

Saturday, September 23, 2023

JURNAL 1

Saya sedang tidak begitu mengerti dunia. Ah tidak, mungkin lebih kepada tidak mengerti kemauan diri saya. Atau lebih kepada orang yang tidak bersyukur dengan yang saya punya sekarang. Banyak hal indah yang saya punya dahulu dan saya buang jauh begitu saja. Saya biarkan retak dan mencoba menghapus jejak.


2018 adalah tahun keemasan di dalam karir saya. Saat itu hampir semuanya saya peroleh. Persahabatan, kepercayaan, rasa nyaman, pencapaian, dan banyak hal. Saat ini saya berpikir betapa saya salah langkah dalam mengambil keputusan. Semoga untuk kali ini saya tidak kembali salah langkah.


Semarang salah satu kota yang mempunyai ciri makanan dengan rasa manis, bahkan kadang saking manisnya tiap rasa yang berpindah ke indra kita akan susah terlupakan. Banyak hal yang sudah diajarkan kota ini kepada saya. Kota ini mengajarkan bertahan melawan badai serta merangkak menuju angkasa.


Karena rasa sangat percaya kepada seorang pimpinan pada akhirnya saya merasa wajib mengikuti tiap jejaknya. Selain karena hutang jasa, beliau pula yang selalu ada untuk sekedar bercerita. Namun justru langkah itu membuat saya terjun bebas ke dalam jurang dan menenggelamkan karir saya. Di saat saya menyadari saya salah langkah dan mulai berusaha survive dengan pilihan saya dan badai lain kembali hadir.


Pada akhirnya takdir menerbangkan burung kecil dari utara menuju selatan. Mindset salah dari utara membuat saya terseok-seok di selatan. Bertahan pada satu posisi tanpa perlu pikir panjang asal jumlah hasil yang diterima sebanding dengan keringat yang dikeluarkan. 


Kini saya harus kembali survive dengan kondisi sekarang, saya sudah tidak bisa putar arah. Tenaga sudah rapuh dipangan usia sedang ilmu dan tanggung jawab tak kunjung naik. Saya dilempar dari satu kolam kecil ke kolam lain. Atas dasar kesetiakawanan saya berusaha sebijak mungkin menyikapi diri saya yang ternyata menjadi seorang pesakitan.


Namun kali ini saya harus berusaha bertahan, survive dan tak tergoda apa pun. Sabar dan tidak menyalahkan orang lain. Tapi sejujurnya sulit sekali menjalani sesuatu yang berlawanan dengan nurani. Saya coba berkeluh kesah namun semuanya mentok. Kemudian malam ini saya coba pikir dan ulang kembali tentang rekam jejak ingatan. Tentang menjadi diri sendiri, merasa cukup, tidak sombong, dan tanggung jawab.


Saat ini saya sedang berada di tengah samudera yang awaknya seolah saling bermusuhan. Saya sangat tidak nyaman dengan kondisi ini. Dahulu saya punya pegangan berupa rasa percaya kapten kapal. Sedang sekarang saya hanya orang asing buangan yang mestinya bersyukur di tampung di sebuah kapal yang sudi memberikan sesuap nasi di tiap harinya.


Apakah takdir saya selalu harus salah pilih? Saya rasa tidak. Karena saya berusaha menjadi bijak. Namun pada akhir-akhir ini saya merasakan bahwa konsekuensi dari "bijak" itu sendiri adalah pengorbanan perasaan. Setiap hari, setiap waktu, setiap saat kini saya hanya berusaha melewati waktu demi waktu untuk kebahagiaan orang lain. 


Apakah saya mesti nekat melompat? "Ngolot...!!!" barangkali saya akan mencoba bertahan di tengah kemunafikan ini dalam pangkuan tutur bahasa yang tak terkata. Mengamati dan mencari pelabuhan yang mungkin membawaku kembali ke tanah tempatku dilahirkan. 

Saturday, April 8, 2023

CINEMA BAKERY 2

1

Minggu sore itu aku tidak punya hal yang lebih baik untuk dilakukan, dan merasa sedang terbuka untuk mendapat pengalaman baru, jadi aku memutuskan untuk mengunjungi rumah Kak Sytha di daerah Kota Gede bersama pacarku.

Tidak terlalu sulit untuk menemukan rumah Kak Sytha. Itu adalah sebuah rumah kecil namun menarik, dengan jendelanya yang luas terbuka menawarkan udara segar.


Aku duduk di sebuah sofa, di ruang tamu yang ada di sebelah kanan, dan itu tampak seperti tempat yang tepat untuk berkumpul. Aku masih ingat warna dan tekstur langit-langit rumahnya sampai hari ini.

“Jan apik bianget umahmu, Mbak Ayu”, kataku dengan logat Bahasa Jawa ngapak.
Kak Sytha tersenyum mendengar ucapanku. Senyum yang sama saat di café sebuah senyum sederhana yang mengahangatkan

“Siapa ini, Nang?” tanya Kak Sytha

“Oh iya, lupa. Ini Elisa dia pacarku, Kak.”

Kemudian selayaknya orang yang sedang berkenalan dengan ramah mereka saling berjabat tangan dan melempar senyuman.

“Kak Sytha tinggal sendiri di sini?”
“Engga, aku bersama saudara, tetapi sudah seminggu dia sedang pergi ke Semarang”
“Owalah”

Aku melihat, ada banyak foto yang tergantung di ruang tamunya. Aku juga melihat beberapa piagam penghargaan yang tertulis atas nama Masytha Febria.Sepertinya itu adalah sebuah memory yang sengaja Kak Sytha kumpulkan untuk mengenang tiap momen di hidupnya. Semuanya berbicara tentang masa indah sepertinya, sebagai bingkisan yang diberikan waktu kepadanya. Memang waktu adalah sesuatu yang teramat bajingan, mudah mengukir kenang tapi tak sudi mengulang. Di dalam foto itu aku melihat Kak Sytha masih seorang gadis remaja yang polos dan lugu.


2

Setelah itu, kami bersama percakapan yang sangat khusus, di mana emosi langsung terasa di ruang tamu. Lonceng kecil yang menggantung di depan pintu, menggemerincing ditiup angin.
“Banyak memori yang terekam di kota ini, sehingga aku sangat rindu tiap kali harus meninggalkan kota ini”, katanya sambil menunjuk sebuah foto bersama teman-temannya. “Seakan Yogyakarta selalu menghisapku dari jarak jauh”
“Ini Kak Sytha?”, kutanya sambil memandang sebuah foto di mana Kak Sytha sedang duduk melamun.
“Iya. Itu aku waktu masih muda. Cantik tidak?” Dia tersenyum
“Cantik, Kak” Jawabku dan Elisa bersamaan.
“Itu apa kak?” Tanya Elisa sambal menunjuk ke sebuah kotak kayu kecil berwarna cokelat di sebelah foto Kak Sytha. Di atas kotak itu ada ukiran gambar dua dimensi dengan kalimat from Jogja with love.
“Hmmm…Kamu pintar Elisa memperhatikan sesuatu.”
Kemudian Elisa meminta izin untuk memegangnya. Elisa mencoba membuka kotak music itu, terlihat ada foto Kak Sytha yang diukir dengan design dua dimensi dan sepotong tulisan yang sudah mulai pudar.

Saat kotak music itu terbuka, di saat yang sama pula terlantun instrument “Castle In The Sky”. Lagu lama dari cerita fantasi eropa dimana karakter utama wanitanya Bernama Sytha.

“Wah, manis sekali ini kak? Kakak beli dimana?” Tanya Elisa
“Seseorang memberikannya kepadaku dahulu. Maaf tapi aku tidak tahu tempat dia membelinya”
“Makanya jangan penginan gitu kamu tuh.” Ledekku kepada Elisa
“Lha kenapa toh? Biarin sih, lagian ini manis sekali. Aku susah kak carinya, apalagi aransemennya di pas sama soundtrack kisah yang tokoh utamanya seperti nama kakak.”
“Ntar tak beliin yang soundtracknya donal bebek kaya kamu.” Kataku menggoda Elisa

Nyebahi, kamu itu” Gerutu Elisa

Kak Sytha tertawa melihat tingkah kami

Nyebahi, sudah lama sekali aku tak mendengar kata itu. Elisa, dulu yang memberikan kotak itu kepadaku adalah orang yang Nyebahi juga sama seperti Dewa.

“Oh ya? Apakah dia mantan Kak Sytha?” Elisa bertanya dengan mimic wajah menggoda Kak Sytha

“Heh, enggak sopan main tanya-tanya. Lagian baru kenal, sok akrab banget sih, El” Tepisku

“Oh maaf ya, Kak. Aku bercanda soalnya Kak Sytha ini orangnya ramah dan asyik sih jadi udah gampang kerasa deket aja gitu”

“Enggak apa-apa Elisa, justru aku seneng kalian tidak canggung begini.” Kak Sytha tersenyum

Kak Sytha menceritakan memang yang memberikan kotak itu bukan mantan kekasihnya, namun sepertinya ada kisah yang teramat sangat ingin dia ceritakan karena mungkin kisah itu sudah lama tak dia ceritakan kepada orang lain. Kisah yang sepertinya membuat Wanita ramah ini membendung rindu teramat sangat sehingga mesti membuatnya terjun ke dalam jurang kehilangan bernama ingatan.

Kak Sytha tidak mengatakannya secara langsung, namun semua itu tergambar jelas di raut wajah dan matanya saat dia mengisahkan sepercik tentang kotak music itu.

“Kak Sytha, sepertinya menarik sekali. Boleh tidak kak aku dengar kisah Kakak dan laki-laki itu dari awal pertemuannya.” Rengek Elisa

Bukan Elisa Namanya kalau tidak penasaran dengan kisah dua insan yang jatuh cinta. Karena memang pacarku ini adalah penggila novel roman.

“Aku akan menceritakannya kepada kalian, dan mungkin kalian adalah dua orang pertama yang aku ceritakan secara detail mengenai dia. Manusia yang membendung airmata dibalik tawa, yang pernah membuat Yogyakarta menjadi lebih manis dan istimewa dari biasanya.”

“Wah mau-mau, Kak. Aku bakal nyimak betul” Kata Elisa antusias.

Kak Sytha tersenyum.

Sepertinya Kak Sytha akan mengajak kami berjalan di lorong gelap hatinya, dimana di sana ada jurang kehilangan dan kepingan rindu-rindu yang dingin.

Aku dan Elisa membetulkan posisi duduk, Kak Sytha duduk dihadapan kami dengan kotak music di genggamannya.

 

 

Dari penulis:

“Lanjutannya masih rahasia ye…hahahahaha”

Friday, April 7, 2023

CINEMA BAKERY

1.

Bulan Maret 2030 itu, aku merasa sangat senang bertemu dengan Kak Sytha di Cafe Cinema Bakery, yaitu sebuah cafe roti di Yogyakarta yang cukup populer, tepatnya ada di daerah Palagan.

Cafe Cinema Bakery adalah tempat makan yang menyenangkan. Suasananya cukup teduh di siang hari yang terik, dengan rindang pepohonan dan semilir angin yang menenangkan. Semua hal di sana berasa santai dan tenang. 

Interior cafe ini memiliki kesan khusus dan dipenuhi oleh aneka macam poster dan foto-foto yang berkonsep retro namun unik dan khas. Tentu akan menjadi tempat favorit untuk siapa saja yang datang ke sana. Tak jarang kita juga akan menemui wisatawan asing yang berkunjung ke sini. Karena memang menu makanan yang disajikan cocok untuk turis mancanegara yang terbiasa dengan makanan olahan gandum (roti).

Makanan di tempat itu benar-benar hebat sebagaimana harusnya sebuah restaurant di Eropa. Ada pie apel, roti krem putih dengan taburan kismis yang entah apa namanya, ada juga roti buaya besar, lolipop warna warni dan yang lainnya. Makanannya cukup beragam dan bisa dinikmati untuk semua usia (kurasa).

Semuanya otentik dan segar. Semuanya disiapkan dengan baik dan disajikan dengan penuh estetika. Katanya, itu adalah makanan dengan cita rasa yang unik dan fresh untuk masyrakat Indonesia pada umumnya dan masyarakat Yogyakarta pada khususnya.
“Di sini, kita makan sambil bersantai menikmati sejuk dan semilirnya kota Istimewa”, kata Frans, pemilik Cafe Cinema Bakery itu”
“Rotinya enak, Om”
“Terimakasih”
“Lebih enak kalau gratis”
“Oh begitu”, kata Frans dengan senyum.
“Iya”
“Aku baru tau. Coba kamu traktir aku. Aku ingin tau bagaimana rasanya”
“Kasih dulu aku uangnya”, kataku dengan senyum di wajahku. “Nanti aku traktir kamu”
“Itu ditraktir tapi gak enak ha ha ha”

2
Hari itu adalah kali kedua aku mampir ke Cafe Cinema Bakery, yaitu di dalam perjalanan pulang setelah berkunjung ke rumah seorang kawan yang rumahnya berada di daerah Palagan, kawanku ini seorang programmer yang cukup mahir, dia bekerja untuk sebuah perusahaan pernyedia layanan web hosting untuk orang-orang yang hendak membuat web untuk usahanya.

Di Cafe itulah, secara kebetulan, aku bertemu dengan Kak Sytha. Kadang-kadang memang, hal seperti itu bisa terjadi begitu saja. Dia menemuiku yang sedang duduk sendiri setelah beres makan pie apel dan jus mangga. Aku langsung menenangkan diri dengan menyadari bahwa aku sedang di perhatikan seseorang.
“Kamu orang Jawa ngapak yo?”. Dia bertanya untuk memulai percakapan seperti orang yang hanya ingin mampir untuk menyapa 
“Iya, kak”, kujawab. Kemudian dia tersenyum perlahan, dan memperkenalkan dirinya sebagai kebajikan sebenarnya tentang sebuah pertemuan.

Itulah yang terjadi. Aku juga tersenyum dengan cara bagaimana menyambut seseorang yang ingin ngajak bicara.

Aku tahu dia sangat ramah dan kemudian duduk di kursi yang ada di depanku. Dia mengaku bernama Sytha. Dia perempuan yang cantik dan anggun dengan hidung mancung dan dagu terbelah.

Sepertinya dia adalah seorang wanita yang ramah dan santai. Samar-samar agak gemuk. Memiliki mata dan bibir yang tipis. Dia mengenakan jilbab warna abu-abu bercorak hitam yang sekilas jika kita memandangnya jilbab itu seperti basah karena cipratan air. Dia menggunakan sweeter warna pink dan celana panjang warna putih dengan sepatu datar dan tas berwarna cream. Wajah dan senyumnya memiliki tanda-tanda kecantikan dan keramahan.
“Aku seneng mendengar dialek bicaramu”, katanya lagi, setelah duduk berhadapan denganku yang terpisah oleh meja. “Kamu asli mana, dik?”
“Aku dari Tegal kak”
“Oh ya. Tegal. Kota yang terkenal dengan wartegnya.” Kemudian dia tersenyum.
“Kakak asli mana?”
“Aku? Aku asli Jawa Timur. Tapi udah lama menetap di Yogyakarta.”
“Kakak sendiri?” tanyaku.
“Maaf?”
“Kakak sendirian ke sini?”
“Oh. Tidak. Aku bersama dua teman. Ada pertemuan di dekat sini. Cuma teman-temanku masih ada urusan di luar sebenatar. Jadi aku menunggu mereka di sini”, jawab Kak Sytha.

Ketika berbicara, Kak Sytha selalu memiliki binar di matanya dan melihatku dengan penuh perhatian atau mengangguk dengan cara yang berarti pada saat giliranku bicara. 

Itu luar biasa sulit ditemui, lawan bicara yang begitu antusias dan menghargai di era tahun 2025 sampai dengan sekarang. Mereka cenderung tidak terlalu fokus dengan lawan bicaranya, namun lebih kepada gadgetnya.

“Tadi aku lihat kamu duduk sendiri. Kemudian aku tertarik saat kamu berbicara dengan logatmu. Barangkali kamu bisa diajak bicara untuk mengisi waktu. Ternyata kamu baik dan ramah”, dia selalu mengakhiri pembicaraan dengan senyuman yang hangat seperti seorang ibu guru yang baik hati.
“Kakak bisa bahasa Jawa ngapak?”
“Ya, tentu. Sedikit-sedikit bisa, dulu temanku banyak yang dari Jawa ngapak. Purwokerto, Banjarnegara, Kebumen, dan banyak pokoknya”.
Aku tidak bisa mengalihkan pandangan dari dirinya. Dia tersenyum untuk membuatku yakin.
“Oh ya? Waaah”
“Kamu sudah lama di Yogya?”, tanya Kak Sytha.
"Lumayan kak, sudah dua tahun ini." 

"Kamu sudah pernah pergi ke monumen Ulen Sentalu?"
"Aku tahu itu. Sebuah daerah yang sejuk dan iconic di Kaliurang atas kan, kak?
Dia mengangguk untuk menjawab pertanyaanku.
"Aku tidak sengaja ke sana. Banyak pengetahuan baru juga yang aku dapatkan di sana. Tentang perbedaan keraton Yogyakarta dan Kasultanan Surakarta, tentang adat, juga tentang budaya."
“Ya betul. Aku kira kamu anak yang cerdas jika aku melihat dari sorot matamu.”Aku hanya tersenyum membalas pujian dari Kak Sytha

“Apakah saat kamu ke sana dalam keadaan hujan atau gerimis?”. Tanya kak Sytha

"Kebetulan iya kak, suasana saat aku ke sana gerimis turun saat hendak pulang. Tapi menurutku suasana perjalanannya jadi lebih indah. Walaupun pada waktu itu aku mesti sedikit kuyup karena jas hujanku ternyata berlubang, kak"

Kak Sytha tersenyum dan berkata, "Ya, memang sangat indah jika kamu turun saat kondisi gerimis. Jika kamu bersama seorang perempuan tentu itu akan jadi momen yang sangat romantis bukan?"

"Hahahah, betul kak. Kata orang Yogya dan hujan adalah kombinasi romantis yang manis" Jawabku

"Ah tidak juga. Tetap saja atis. Dulu pernah ada seseorang yang mengucapkan hal yang sama kepadaku. Namun dia segera merevisinya. Katanya romantis apaan atis begini, sama sepertimu itu dia mengucapkan dengan logat Jawa ngapaknya yang medok"

Awalnya aku ragu untuk tertawa, tapi melihat Kak Sytha tertawa aku pun jadi ikut tertawa. Pada akhirnya kita tertawa bersama. 

Kak Sytha orang yang sangat menyenangkan untuk bercerita. Dia seru, lucu, dan sangat perhatian ketika lawan bicara sedang berbicara.

3
Di Cafe Cinema Bakery, aku mencium perasaan nostalgia, dari cerita dan tawa Kak Sytha. Kemudian Kak Sytha bercerita tentang masa lalunya. Dia menceritakan hal-hal tentang dirinya dengan seseorang yang mungkin cukup berarti baginya dan masa-masa yang telah dia lalui bersamanya.

Memang, ketika kita memiliki kenangan pribadi, kadang-kadang kita merasa ingin membahasnya dengan orang lain. Itu adalah kenangan masa lalunya, tentang hari-hari yang penuh dengan hal-hal keseharian yang sederhana namun indah dibicarakan. Seperti Yogya yang sederhana namun penuh keindahan dan keistimewaan.

Itu adalah pertemuan pertamaku dengan Kak Sytha, di mana dia bercerita tentang kisahnya selama tinggal di Yogyakarta, dari awalnya seorang mahasiswa perantauan sampai menjadi pemimpin sebuah perusahaan besar ternama.

Bagi Kak Sytha, Yogyakarta adalah sebuah tempat yang cukup memainkan peranan besar ketika dia tumbuh di sana. Yogyakarta selalu ada di dalam pikiran dan kenangannya, sampai saat ketika dia pernah mencoba meninggalkannya. Tuhan kembalikan dia kepada tempat yang sangat dicintainya. 

Kini, dia sepertinya ingin mengenang masa itu, dengan dia menceritakannya penuh rasa hormat dan hangat.

“Aku masih sangat ingat sore itu saat aku turun dari Ulen Sentalu. Aku masih ingat kabutnya. Aku masih ingat dingin anginnya yang perlahan menghembus tubuh kami. Aku masih ingat wajah dia yang bersamaku. Manusia yang kalau orang Yogya kata "Nyebahi". Tapi selalu ada banyak pilihan memory yang bisa aku rindukan tentang kita berdua." 

Aku dapat merasakannya, Kak Sytha menceritakan dengan penuh perasaan. Seperti ada lubang kerinduan untuk masa-masa yang dia ceritakan.

“Jika gerimis turun di Yogyakarta, aku seringkali merasa melankolis untuk semua yang telah aku miliki, yang kadang-kadang membuatku merasa keheningan”, katanya.

Pada dasarnya, aku merasa memiliki percakapan yang baik dan seru dengan Kak Sytha. Tapi waktu berjalan sangat cepat, dan aku harus segera kembali ke kampus karena ada janji bertemu dengan teman untuk menghadiri kegiatan kuliah.

Dua orang teman Kak Sytha juga sudah datang. Kak Sytha berharap akan bisa bertemu lagi denganku, itulah yang bisa ia katakan sebelum aku berpisah dengannya. Dia mengajakku ke rumahnya di daerah Kota Gede.

“Oke Kak. Boleh aku minta alamatnya atau nomer handphone Kak Sytha?”

Kemudian dia memberi alamat rumah dan nomer handphonenya. Setelah memberikan alamat dan nomer handphonenya Kak Sytha beranjak dengan menjinjing tas berwarna cream yang sedari tadi dia letakan di meja.

Beberapa langkah Kak Sytha berjalan, dia melangkah kembali ke arah mejaku,
“Mampirlah ke rumah, kalau kamu punya pacar atau gebetan kamu boleh membawanya. Aku mau ngasih tahu kamu, bagaimana Yogyakarta bisa begitu manis pada akhirnya”, kata Kak Sytha sambil tersenyum.
“Siap, Kak”

Hari sudah menjelang gelap dan keheningan membaur, meresap di udara. Senja turun di Yogyakarta.

Saturday, February 25, 2023

Art of Broken

Belakangan saya kehabisan cara untuk mengisi waktu sepulang kerja terutama pada akhir pekan ketika tidak ada aktivitas. Sering kali pikiran tak terkendali jika kondisi tidak mengerjakan sesuatu yang positif. Kosong. Khawatirnya malah menjurus ke hal yang sangat negatif.

Saya coba mainan baru, sebuah hiburan lama yang sudah jarang saya mainkan. Menulis dan melukis. Susah sekali ketika kita ingin melakukan sesuatu yang sudah lama tidak kita lakukan.

Saya selalu suka buku-buku, lukisan, harmoni, dan kata-kata yg ada di puisi. Pada akhirnya dalam dua Minggu terakhir saya menghabiskan waktu untuk melukis dan sesekali menulis untuk melampiaskan pikiran dan mengisi waktu luang di akhir pekan atau setelah pulang kerja

Saya suka puisi dan lukisan abstraksi, karena seseorang akan sulit memahami apa yang ingin kita ungkapkan dalam arti yang sebenarnya. Sehingga orang tidak perlu tahu kesedihan atau kebahagiaan yang sedang kita sampaikan, biar mereka menilai dengan presepsi mereka sendiri.

Lanjut,

Saya mulai melukis. Mengawali goresan dengan meracik perpaduan warna yang menghasilkan kilau terang yang semburat dalam cerah. Cuman setelah saya lihat hasilnya sedikit terlalu cengeng. 


Saya coba rubah racikan warnanya, kali ini saya tambahkan warna gelap yang tegas, kemudian saya aplikasikan dalam goresan kasar tak beraturan supaya menimbulkan sisi luapan emosional

Saya pilih dasar putih yang dipadukan dengan warna gelap yang pekat sebagai simbol ketidakpastian, lalu saya tambahkan kilau terang agar tidak memberi kesan mati pada lukisannya, namun saya coba gunakan percampuran warna yang menghasilkan warna cerah tapi tidak memberi kesan melow. Tujuannya agar tidak terlihat sendu atau menye-menye seperti boy band korea. Hahahaha. Hasilnya cukup emosional dan lebih natural (kurasa)

Saya mengerjakan lukisan kurang lebih sepuluh hari, mungkin bernilai jual cuman tidak akan saya jual. Hanya saja konsekuensi dari kegiatan ini saya mesti dapat omelan berkali-kali karena ada saja yang dikorbankan. Baik lantai di gudang belakang dan celana jeans butut andalan. Ya sudahlah yang penting happy. hihihi


Lanjut,  

Saya lanjut melukis, kali ini saya mencoba membuat garis simetris. Saya rubah pola creating & skalanya dari kanvas menjadi kertas, kemudian dari kuas saya rubah jadi lebih tajam menggunakan pena drawing. Awalan cukup berantakan, karena tak ada kesempatan kedua ketika kita menggunakan bolpoint.


Maka pada kesempatan selanjutnya, saya coba gambar menggunakan pensil. 

Oh iya, tempo hari seseorang pernah bercerita ada tempat makan enak yang wajib saya kunjungi "Penyetan Ayu Sakti" maka sebelum mampir ke cafe Basabasi untuk mencari inspirasi, saya sempatkan mengisi perut di penyetan Ayu Sakti.

Di cafe Basabasi saya menantang diri saya membayangkan rupa seseorang tanpa melihat fotonya, hanya berdasarkan ingatan yang  dituangkan dalam lukisan atau sketsa gambar lebih tepatnya. Tapi setelah saya pikir, baiknya mungkin saya melukis tidak dengan wajah tapi cukup dari busana dan gestur orangnya saja. 

Hanya saja setelah saya lihat hasilnya, ternyata kurang presisi tapi cukup menggambarkan anggunnya wanita yang saya gambarkan. Saya namakan (dia) lukisan ini, "Di Balik Punggung Mbak Nur" Hahaha

Begini hasilnya:


Bonus puisi untuk menikmatinya:

Sampai kudengar sayup-sayup kibas pucuk kerudungmu berdesir di pangkal ingatanku, aku masih laki-laki yang sama; yang memberanikan diri untuk menantang matamu, membaca nasibku.

Sebab, Cah Ayu... menjalani sebuah kegagalan masih bisa dimengerti daripada tidak menjalani apapun, sama sekali.


Oke, Demikian cerita ini berakhir. Good Night & Adios.

Monday, February 6, 2023

Hijrah ke Mars

Beberapa hari ini kuping dan mata saya terus menuju ke permasalahan Jerusalem. Saya lihat anak-anak diperlakukan seperti binatang disana. Dipukul, ditendang, dll. Bahkan kalau pun itu binatang bukankah tak sepatutnya pula kita perlakukan demikian.
Melihat dari permasalahan Jerusalem sepertinya ini lebih dari soal agama tapi lebih kepada soal politik. Dan dari Zaman SMA saya paling benci dengan hal yang berbau politik. Seorang warga kulit putih ingin menunjukkan pada dunia kalau dia bisa memenangkan sekutunya untuk memperluas daerahnya dengan cara apapun.
Bajingan keparat ini tidak punya peri kemanusiaan, kau boleh buktikan pada dunia ini tentang apapun tapi jangan sakiti manusia lainnya. Kamu punya anak, kamu seorang bapak? Atau jika pun tidak kamu punya seorang adik atau ibu, bagaimana jadinya jika mereka yang tak bersalah diperlakukan demikian. Dan kau tahu, orang-orang seperti inilah yang membuat dunia marah dan berontak. Ingat satu hal ketika seorang pendiam yang sabar marah, maka kemarahannya akan lebih gempar dari sekedar bom.
Apakah dengan segala adidaya atau adikuasamu bisa mempengaruhi dunia? Saya rasa anda salah. Dasar bodoh. Kau justru menyulut api kehancuran dirimu dimana kelak di peristirahatan terakhirmu akan penuh dengan cacian dan hinaan dari orang* yang kau buat derita hari ini.
Bukan ucapan dendam yang saya sampaikan, tapi lebih kepada peringatan keras. Saya benci melihat orang-orang yang tidak sepadan menyiksa mereka yang juga tidak sepadan untuk jadi lawannya.
Jika penguasa dunia punya kebijakan demikian, maka lebih baik jika kita pindah ke planet mars saja.

Friday, January 13, 2023

AKITA & DANAU CINTA DUA NAGA



Akita. Sebuah daerah di Utara Jepang dimana biasa salju turun lebih tebal di sana. Pernah satu waktu aku membayangkan kita menghabiskan waktu bersama di tempat ini, setelah hari-hari padat dan penat yang kita lalui. Sekedar melihat salju yang turun sambil berendam air panas dan minum teh, atau barangkali menyantap makanan khas dari tempat itu. Rasanya mungkin akan jadi hari-hari luar biasa.

Namun seperti yang kukira bahwa aku hanya seorang pemimpi biasa saja, tak dekat dengan nyata yang ingin kupunya. Pertama kali aku tertarik dengan Jepang saat mempelajari buku "The Power Of Water" yang jadi Best Seller  di New York Times. Kemudian entah kenapa aku dibuat jatuh cinta dengan salah satu tempat yang kebetulan aku telusuri dari referensi mata air Jepang dari buku yang kubaca.

Danau Tazawa, yang letaknya di utara negara Jepang tepatnya di daerah bernama Akita. Betapa sangat takjub melihat kondisi lokasi Akita. Selain sejuk dan dingin, sepertinya Akita punya daya tarik tersendiri untuk saya pribadi. 

Khususnya untuk Danau Tazawa, dimana danau ini adalah danau terdalam di Jepang. Namun layaknya lambang cinta dua insan yang saling berbagi rasa konon danau ini tak pernah membeku di musim sedingin apapun. Terlepas dari fakta itu, mitosnya di danau ini hiduplah dua ekor naga yang saling mencinta dimana salah satunya adalah tokoh yang diabadikan menjadi patung perunggu yang berdiri tegap di atas danau, dia adalah "Putri Tazawa".

Ah sudah, saya bukan guru sejarah. Hey, semoga tuhan mengizinkan kita ke sana ya, tak cuma mimpi belaka yang sia-sia. Menghabiskan satu senja di Akita bersama rindu-rindu yang puluhan tahun terbelenggu dimana pada akhirnya merekah di tengah salju. Sampai Jumpa.  

Wednesday, May 11, 2022

Tak Bicara



Gelap menuju terang

degup genderang, tak kunjung hilang

sebuah harapan terhalang ilalang.


Tersesat pada penantian menaun,

doa-doa yang tak henti dipanjatkan

menuju akhir dari sebuah penantian

tangis tercekat dan teriak tersekat,

lebih menyakitkan dari leher terikat.


Seseorang bisa mati kedinginan di tengah gurun.

juga bisa mati terbakar di bawah samudera.


Ingin berupaya karena putus asa bukan jalannya

namun sudah kehilangan cara untuk sampai padanya.

Pilihan akan sebuah kenyamanan jadi boomerang

suatu kata-kata yang menyulut genderang perang.


Di rajam tubuh sendiri,

oleh ingatan dan penglihatan.

Bertahan sekuat hati.

Pilar butuh sandaran untuk pegangan.

Sampai pada batas kesabaran, pilar dihempaskan kesepian 

bersama ketakutan yang selalu dia bayangkan.

Semoga tegar senantiasa pada linimasa.

KUPU-KUPU MURUNG

  Hai dinda, Apa kabar di sana? Kurasa malammu baik-baik saja. Kuingat saat pertama matamu menjangkau mataku Ada luka dalam di sana, yang en...