1.
Bulan
Maret 2030 itu, aku merasa sangat senang bertemu dengan Kak Sytha di Cafe
Cinema Bakery, yaitu sebuah cafe roti di Yogyakarta yang cukup populer,
tepatnya ada di daerah Palagan.
Cafe Cinema Bakery adalah tempat makan yang menyenangkan. Suasananya cukup
teduh di siang hari yang terik, dengan rindang pepohonan dan semilir
angin yang menenangkan. Semua hal di sana berasa santai dan tenang.
Interior cafe ini memiliki kesan khusus dan dipenuhi oleh aneka macam poster dan
foto-foto yang berkonsep retro namun unik dan khas. Tentu akan menjadi
tempat favorit untuk siapa saja yang datang ke sana. Tak jarang kita juga akan
menemui wisatawan asing yang berkunjung ke sini. Karena memang menu makanan
yang disajikan cocok untuk turis mancanegara yang terbiasa dengan makanan
olahan gandum (roti).
Makanan di tempat itu benar-benar hebat
sebagaimana harusnya sebuah restaurant di Eropa. Ada pie apel, roti krem putih
dengan taburan kismis yang entah apa namanya, ada juga roti buaya besar,
lolipop warna warni dan yang lainnya. Makanannya cukup beragam dan bisa
dinikmati untuk semua usia (kurasa).
Semuanya otentik dan segar. Semuanya disiapkan dengan baik dan disajikan dengan
penuh estetika. Katanya, itu adalah makanan dengan cita rasa yang unik dan
fresh untuk masyrakat Indonesia pada umumnya dan masyarakat Yogyakarta pada
khususnya.
“Di sini, kita makan sambil bersantai menikmati sejuk dan semilirnya kota
Istimewa”, kata Frans, pemilik Cafe Cinema Bakery itu”
“Rotinya enak, Om”
“Terimakasih”
“Lebih enak kalau gratis”
“Oh begitu”, kata Frans dengan senyum.
“Iya”
“Aku baru tau. Coba kamu traktir aku. Aku ingin tau bagaimana rasanya”
“Kasih dulu aku uangnya”, kataku dengan senyum di wajahku. “Nanti aku
traktir kamu”
“Itu ditraktir tapi gak enak ha ha ha”
2
Hari itu adalah kali kedua aku mampir ke Cafe Cinema Bakery, yaitu di dalam
perjalanan pulang setelah berkunjung ke rumah seorang kawan yang rumahnya
berada di daerah Palagan, kawanku ini seorang programmer yang cukup mahir, dia
bekerja untuk sebuah perusahaan pernyedia layanan web hosting untuk orang-orang
yang hendak membuat web untuk usahanya.
Di Cafe itulah, secara kebetulan, aku bertemu dengan Kak Sytha. Kadang-kadang
memang, hal seperti itu bisa terjadi begitu saja. Dia menemuiku yang sedang
duduk sendiri setelah beres makan pie apel dan jus mangga. Aku langsung
menenangkan diri dengan menyadari bahwa aku sedang di perhatikan seseorang.
“Kamu orang Jawa ngapak yo?”. Dia bertanya untuk memulai
percakapan seperti orang yang hanya ingin mampir untuk menyapa
“Iya, kak”, kujawab. Kemudian dia tersenyum perlahan, dan memperkenalkan
dirinya sebagai kebajikan sebenarnya tentang sebuah pertemuan.
Itulah yang terjadi. Aku juga tersenyum dengan cara bagaimana menyambut
seseorang yang ingin ngajak bicara.
Aku tahu dia sangat ramah dan kemudian duduk di kursi yang ada di depanku.
Dia mengaku bernama Sytha. Dia perempuan yang cantik dan anggun dengan hidung
mancung dan dagu terbelah.
Sepertinya dia adalah seorang wanita yang ramah dan santai. Samar-samar agak
gemuk. Memiliki mata dan bibir yang tipis. Dia mengenakan jilbab warna abu-abu
bercorak hitam yang sekilas jika kita memandangnya jilbab itu seperti basah
karena cipratan air. Dia menggunakan sweeter warna pink dan celana panjang
warna putih dengan sepatu datar dan tas berwarna cream. Wajah dan senyumnya
memiliki tanda-tanda kecantikan dan keramahan.
“Aku seneng mendengar dialek bicaramu”, katanya lagi, setelah duduk berhadapan
denganku yang terpisah oleh meja. “Kamu asli mana, dik?”
“Aku dari Tegal kak”
“Oh ya. Tegal. Kota yang terkenal dengan wartegnya.” Kemudian dia tersenyum.
“Kakak asli mana?”
“Aku? Aku asli Jawa Timur. Tapi udah lama menetap di Yogyakarta.”
“Kakak sendiri?” tanyaku.
“Maaf?”
“Kakak sendirian ke sini?”
“Oh. Tidak. Aku bersama dua teman. Ada pertemuan di dekat sini. Cuma teman-temanku masih ada urusan di luar sebenatar. Jadi aku menunggu mereka di sini”, jawab
Kak Sytha.
Ketika berbicara, Kak Sytha selalu memiliki binar di matanya dan melihatku dengan
penuh perhatian atau mengangguk dengan cara yang berarti pada saat giliranku
bicara.
Itu luar biasa sulit ditemui, lawan bicara yang begitu antusias
dan menghargai di era tahun 2025 sampai dengan sekarang. Mereka cenderung tidak
terlalu fokus dengan lawan bicaranya, namun lebih kepada gadgetnya.
“Tadi aku lihat kamu duduk sendiri. Kemudian aku tertarik saat kamu berbicara
dengan logatmu. Barangkali kamu bisa diajak bicara untuk mengisi waktu.
Ternyata kamu baik dan ramah”, dia selalu mengakhiri pembicaraan dengan
senyuman yang hangat seperti seorang ibu guru yang baik hati.
“Kakak bisa bahasa Jawa ngapak?”
“Ya, tentu. Sedikit-sedikit bisa, dulu temanku banyak yang dari Jawa ngapak.
Purwokerto, Banjarnegara, Kebumen, dan banyak pokoknya”.
Aku tidak bisa mengalihkan pandangan dari dirinya. Dia tersenyum untuk
membuatku yakin.
“Oh ya? Waaah”
“Kamu sudah lama di Yogya?”, tanya Kak Sytha.
"Lumayan kak, sudah dua tahun ini."
"Kamu
sudah pernah pergi ke monumen Ulen Sentalu?"
"Aku tahu itu. Sebuah daerah yang sejuk dan iconic di
Kaliurang atas kan, kak?
Dia
mengangguk untuk menjawab pertanyaanku.
"Aku tidak sengaja ke sana. Banyak pengetahuan baru juga yang aku dapatkan
di sana. Tentang perbedaan keraton Yogyakarta dan Kasultanan Surakarta, tentang
adat, juga tentang budaya."
“Ya betul. Aku kira kamu anak yang cerdas jika aku melihat dari sorot matamu.”Aku
hanya tersenyum membalas pujian dari Kak Sytha
“Apakah
saat kamu ke sana dalam keadaan hujan atau gerimis?”. Tanya kak Sytha
"Kebetulan
iya kak, suasana saat aku ke sana gerimis turun saat hendak pulang. Tapi menurutku suasana perjalanannya jadi lebih indah. Walaupun pada waktu itu
aku mesti sedikit kuyup karena jas hujanku ternyata berlubang, kak"
Kak
Sytha tersenyum dan berkata, "Ya, memang sangat indah jika kamu turun saat
kondisi gerimis. Jika kamu bersama seorang perempuan tentu itu akan jadi momen
yang sangat romantis bukan?"
"Hahahah,
betul kak. Kata orang Yogya dan hujan adalah kombinasi romantis yang
manis" Jawabku
"Ah
tidak juga. Tetap saja atis. Dulu pernah ada seseorang yang
mengucapkan hal yang sama kepadaku. Namun dia segera merevisinya. Katanya
romantis apaan atis begini, sama sepertimu itu dia mengucapkan
dengan logat Jawa ngapaknya yang medok"
Awalnya
aku ragu untuk tertawa, tapi melihat Kak Sytha tertawa aku pun jadi ikut
tertawa. Pada akhirnya kita tertawa bersama.
Kak
Sytha orang yang sangat menyenangkan untuk bercerita. Dia seru, lucu, dan
sangat perhatian ketika lawan bicara sedang berbicara.
3
Di Cafe Cinema Bakery, aku mencium perasaan nostalgia, dari cerita dan tawa Kak
Sytha. Kemudian Kak Sytha bercerita tentang masa lalunya. Dia menceritakan
hal-hal tentang dirinya dengan seseorang yang mungkin cukup berarti baginya dan
masa-masa yang telah dia lalui bersamanya.
Memang, ketika kita memiliki kenangan pribadi, kadang-kadang kita merasa ingin
membahasnya dengan orang lain. Itu adalah kenangan masa lalunya, tentang
hari-hari yang penuh dengan hal-hal keseharian yang sederhana namun indah
dibicarakan. Seperti Yogya yang sederhana namun penuh keindahan dan
keistimewaan.
Itu adalah pertemuan pertamaku dengan Kak Sytha, di mana dia bercerita
tentang kisahnya selama tinggal di Yogyakarta, dari awalnya seorang mahasiswa
perantauan sampai menjadi pemimpin sebuah perusahaan besar ternama.
Bagi Kak Sytha, Yogyakarta adalah sebuah tempat yang cukup memainkan peranan
besar ketika dia tumbuh di sana. Yogyakarta selalu ada di dalam pikiran dan
kenangannya, sampai saat ketika dia pernah mencoba meninggalkannya. Tuhan
kembalikan dia kepada tempat yang sangat dicintainya.
Kini, dia sepertinya
ingin mengenang masa itu, dengan dia menceritakannya penuh rasa hormat dan
hangat.
“Aku masih sangat ingat sore itu saat aku turun dari Ulen Sentalu. Aku masih
ingat kabutnya. Aku masih ingat dingin anginnya yang perlahan menghembus tubuh
kami. Aku masih ingat wajah dia yang bersamaku. Manusia yang kalau orang Yogya
kata "Nyebahi". Tapi selalu ada banyak pilihan
memory yang bisa aku rindukan tentang kita berdua."
Aku dapat merasakannya, Kak Sytha menceritakan dengan penuh perasaan. Seperti ada lubang kerinduan untuk
masa-masa yang dia ceritakan.
“Jika gerimis turun di Yogyakarta, aku seringkali merasa melankolis untuk semua
yang telah aku miliki, yang kadang-kadang membuatku merasa keheningan”, katanya.
Pada dasarnya, aku merasa memiliki percakapan yang baik dan seru dengan Kak Sytha. Tapi waktu berjalan
sangat cepat, dan aku harus segera kembali ke kampus karena ada janji bertemu
dengan teman untuk menghadiri kegiatan kuliah.
Dua orang teman Kak Sytha juga sudah datang. Kak Sytha berharap akan bisa
bertemu lagi denganku, itulah yang bisa ia katakan sebelum aku berpisah
dengannya. Dia mengajakku ke rumahnya di daerah Kota Gede.
“Oke Kak. Boleh aku minta alamatnya atau nomer handphone Kak Sytha?”
Kemudian dia memberi alamat rumah dan nomer handphonenya. Setelah memberikan alamat dan nomer handphonenya Kak Sytha beranjak dengan menjinjing tas berwarna cream yang sedari tadi dia letakan di meja.
Beberapa langkah Kak Sytha berjalan, dia melangkah kembali ke arah mejaku,
“Mampirlah ke rumah, kalau kamu punya pacar atau gebetan kamu boleh membawanya. Aku mau ngasih tahu kamu, bagaimana Yogyakarta bisa begitu manis pada
akhirnya”, kata Kak Sytha sambil tersenyum.
“Siap, Kak”
Hari sudah menjelang gelap dan keheningan membaur, meresap di udara. Senja turun di Yogyakarta.
No comments:
Post a Comment