Friday, April 7, 2023

CINEMA BAKERY

1.

Bulan Maret 2030 itu, aku merasa sangat senang bertemu dengan Kak Sytha di Cafe Cinema Bakery, yaitu sebuah cafe roti di Yogyakarta yang cukup populer, tepatnya ada di daerah Palagan.

Cafe Cinema Bakery adalah tempat makan yang menyenangkan. Suasananya cukup teduh di siang hari yang terik, dengan rindang pepohonan dan semilir angin yang menenangkan. Semua hal di sana berasa santai dan tenang. 

Interior cafe ini memiliki kesan khusus dan dipenuhi oleh aneka macam poster dan foto-foto yang berkonsep retro namun unik dan khas. Tentu akan menjadi tempat favorit untuk siapa saja yang datang ke sana. Tak jarang kita juga akan menemui wisatawan asing yang berkunjung ke sini. Karena memang menu makanan yang disajikan cocok untuk turis mancanegara yang terbiasa dengan makanan olahan gandum (roti).

Makanan di tempat itu benar-benar hebat sebagaimana harusnya sebuah restaurant di Eropa. Ada pie apel, roti krem putih dengan taburan kismis yang entah apa namanya, ada juga roti buaya besar, lolipop warna warni dan yang lainnya. Makanannya cukup beragam dan bisa dinikmati untuk semua usia (kurasa).

Semuanya otentik dan segar. Semuanya disiapkan dengan baik dan disajikan dengan penuh estetika. Katanya, itu adalah makanan dengan cita rasa yang unik dan fresh untuk masyrakat Indonesia pada umumnya dan masyarakat Yogyakarta pada khususnya.
“Di sini, kita makan sambil bersantai menikmati sejuk dan semilirnya kota Istimewa”, kata Frans, pemilik Cafe Cinema Bakery itu”
“Rotinya enak, Om”
“Terimakasih”
“Lebih enak kalau gratis”
“Oh begitu”, kata Frans dengan senyum.
“Iya”
“Aku baru tau. Coba kamu traktir aku. Aku ingin tau bagaimana rasanya”
“Kasih dulu aku uangnya”, kataku dengan senyum di wajahku. “Nanti aku traktir kamu”
“Itu ditraktir tapi gak enak ha ha ha”

2
Hari itu adalah kali kedua aku mampir ke Cafe Cinema Bakery, yaitu di dalam perjalanan pulang setelah berkunjung ke rumah seorang kawan yang rumahnya berada di daerah Palagan, kawanku ini seorang programmer yang cukup mahir, dia bekerja untuk sebuah perusahaan pernyedia layanan web hosting untuk orang-orang yang hendak membuat web untuk usahanya.

Di Cafe itulah, secara kebetulan, aku bertemu dengan Kak Sytha. Kadang-kadang memang, hal seperti itu bisa terjadi begitu saja. Dia menemuiku yang sedang duduk sendiri setelah beres makan pie apel dan jus mangga. Aku langsung menenangkan diri dengan menyadari bahwa aku sedang di perhatikan seseorang.
“Kamu orang Jawa ngapak yo?”. Dia bertanya untuk memulai percakapan seperti orang yang hanya ingin mampir untuk menyapa 
“Iya, kak”, kujawab. Kemudian dia tersenyum perlahan, dan memperkenalkan dirinya sebagai kebajikan sebenarnya tentang sebuah pertemuan.

Itulah yang terjadi. Aku juga tersenyum dengan cara bagaimana menyambut seseorang yang ingin ngajak bicara.

Aku tahu dia sangat ramah dan kemudian duduk di kursi yang ada di depanku. Dia mengaku bernama Sytha. Dia perempuan yang cantik dan anggun dengan hidung mancung dan dagu terbelah.

Sepertinya dia adalah seorang wanita yang ramah dan santai. Samar-samar agak gemuk. Memiliki mata dan bibir yang tipis. Dia mengenakan jilbab warna abu-abu bercorak hitam yang sekilas jika kita memandangnya jilbab itu seperti basah karena cipratan air. Dia menggunakan sweeter warna pink dan celana panjang warna putih dengan sepatu datar dan tas berwarna cream. Wajah dan senyumnya memiliki tanda-tanda kecantikan dan keramahan.
“Aku seneng mendengar dialek bicaramu”, katanya lagi, setelah duduk berhadapan denganku yang terpisah oleh meja. “Kamu asli mana, dik?”
“Aku dari Tegal kak”
“Oh ya. Tegal. Kota yang terkenal dengan wartegnya.” Kemudian dia tersenyum.
“Kakak asli mana?”
“Aku? Aku asli Jawa Timur. Tapi udah lama menetap di Yogyakarta.”
“Kakak sendiri?” tanyaku.
“Maaf?”
“Kakak sendirian ke sini?”
“Oh. Tidak. Aku bersama dua teman. Ada pertemuan di dekat sini. Cuma teman-temanku masih ada urusan di luar sebenatar. Jadi aku menunggu mereka di sini”, jawab Kak Sytha.

Ketika berbicara, Kak Sytha selalu memiliki binar di matanya dan melihatku dengan penuh perhatian atau mengangguk dengan cara yang berarti pada saat giliranku bicara. 

Itu luar biasa sulit ditemui, lawan bicara yang begitu antusias dan menghargai di era tahun 2025 sampai dengan sekarang. Mereka cenderung tidak terlalu fokus dengan lawan bicaranya, namun lebih kepada gadgetnya.

“Tadi aku lihat kamu duduk sendiri. Kemudian aku tertarik saat kamu berbicara dengan logatmu. Barangkali kamu bisa diajak bicara untuk mengisi waktu. Ternyata kamu baik dan ramah”, dia selalu mengakhiri pembicaraan dengan senyuman yang hangat seperti seorang ibu guru yang baik hati.
“Kakak bisa bahasa Jawa ngapak?”
“Ya, tentu. Sedikit-sedikit bisa, dulu temanku banyak yang dari Jawa ngapak. Purwokerto, Banjarnegara, Kebumen, dan banyak pokoknya”.
Aku tidak bisa mengalihkan pandangan dari dirinya. Dia tersenyum untuk membuatku yakin.
“Oh ya? Waaah”
“Kamu sudah lama di Yogya?”, tanya Kak Sytha.
"Lumayan kak, sudah dua tahun ini." 

"Kamu sudah pernah pergi ke monumen Ulen Sentalu?"
"Aku tahu itu. Sebuah daerah yang sejuk dan iconic di Kaliurang atas kan, kak?
Dia mengangguk untuk menjawab pertanyaanku.
"Aku tidak sengaja ke sana. Banyak pengetahuan baru juga yang aku dapatkan di sana. Tentang perbedaan keraton Yogyakarta dan Kasultanan Surakarta, tentang adat, juga tentang budaya."
“Ya betul. Aku kira kamu anak yang cerdas jika aku melihat dari sorot matamu.”Aku hanya tersenyum membalas pujian dari Kak Sytha

“Apakah saat kamu ke sana dalam keadaan hujan atau gerimis?”. Tanya kak Sytha

"Kebetulan iya kak, suasana saat aku ke sana gerimis turun saat hendak pulang. Tapi menurutku suasana perjalanannya jadi lebih indah. Walaupun pada waktu itu aku mesti sedikit kuyup karena jas hujanku ternyata berlubang, kak"

Kak Sytha tersenyum dan berkata, "Ya, memang sangat indah jika kamu turun saat kondisi gerimis. Jika kamu bersama seorang perempuan tentu itu akan jadi momen yang sangat romantis bukan?"

"Hahahah, betul kak. Kata orang Yogya dan hujan adalah kombinasi romantis yang manis" Jawabku

"Ah tidak juga. Tetap saja atis. Dulu pernah ada seseorang yang mengucapkan hal yang sama kepadaku. Namun dia segera merevisinya. Katanya romantis apaan atis begini, sama sepertimu itu dia mengucapkan dengan logat Jawa ngapaknya yang medok"

Awalnya aku ragu untuk tertawa, tapi melihat Kak Sytha tertawa aku pun jadi ikut tertawa. Pada akhirnya kita tertawa bersama. 

Kak Sytha orang yang sangat menyenangkan untuk bercerita. Dia seru, lucu, dan sangat perhatian ketika lawan bicara sedang berbicara.

3
Di Cafe Cinema Bakery, aku mencium perasaan nostalgia, dari cerita dan tawa Kak Sytha. Kemudian Kak Sytha bercerita tentang masa lalunya. Dia menceritakan hal-hal tentang dirinya dengan seseorang yang mungkin cukup berarti baginya dan masa-masa yang telah dia lalui bersamanya.

Memang, ketika kita memiliki kenangan pribadi, kadang-kadang kita merasa ingin membahasnya dengan orang lain. Itu adalah kenangan masa lalunya, tentang hari-hari yang penuh dengan hal-hal keseharian yang sederhana namun indah dibicarakan. Seperti Yogya yang sederhana namun penuh keindahan dan keistimewaan.

Itu adalah pertemuan pertamaku dengan Kak Sytha, di mana dia bercerita tentang kisahnya selama tinggal di Yogyakarta, dari awalnya seorang mahasiswa perantauan sampai menjadi pemimpin sebuah perusahaan besar ternama.

Bagi Kak Sytha, Yogyakarta adalah sebuah tempat yang cukup memainkan peranan besar ketika dia tumbuh di sana. Yogyakarta selalu ada di dalam pikiran dan kenangannya, sampai saat ketika dia pernah mencoba meninggalkannya. Tuhan kembalikan dia kepada tempat yang sangat dicintainya. 

Kini, dia sepertinya ingin mengenang masa itu, dengan dia menceritakannya penuh rasa hormat dan hangat.

“Aku masih sangat ingat sore itu saat aku turun dari Ulen Sentalu. Aku masih ingat kabutnya. Aku masih ingat dingin anginnya yang perlahan menghembus tubuh kami. Aku masih ingat wajah dia yang bersamaku. Manusia yang kalau orang Yogya kata "Nyebahi". Tapi selalu ada banyak pilihan memory yang bisa aku rindukan tentang kita berdua." 

Aku dapat merasakannya, Kak Sytha menceritakan dengan penuh perasaan. Seperti ada lubang kerinduan untuk masa-masa yang dia ceritakan.

“Jika gerimis turun di Yogyakarta, aku seringkali merasa melankolis untuk semua yang telah aku miliki, yang kadang-kadang membuatku merasa keheningan”, katanya.

Pada dasarnya, aku merasa memiliki percakapan yang baik dan seru dengan Kak Sytha. Tapi waktu berjalan sangat cepat, dan aku harus segera kembali ke kampus karena ada janji bertemu dengan teman untuk menghadiri kegiatan kuliah.

Dua orang teman Kak Sytha juga sudah datang. Kak Sytha berharap akan bisa bertemu lagi denganku, itulah yang bisa ia katakan sebelum aku berpisah dengannya. Dia mengajakku ke rumahnya di daerah Kota Gede.

“Oke Kak. Boleh aku minta alamatnya atau nomer handphone Kak Sytha?”

Kemudian dia memberi alamat rumah dan nomer handphonenya. Setelah memberikan alamat dan nomer handphonenya Kak Sytha beranjak dengan menjinjing tas berwarna cream yang sedari tadi dia letakan di meja.

Beberapa langkah Kak Sytha berjalan, dia melangkah kembali ke arah mejaku,
“Mampirlah ke rumah, kalau kamu punya pacar atau gebetan kamu boleh membawanya. Aku mau ngasih tahu kamu, bagaimana Yogyakarta bisa begitu manis pada akhirnya”, kata Kak Sytha sambil tersenyum.
“Siap, Kak”

Hari sudah menjelang gelap dan keheningan membaur, meresap di udara. Senja turun di Yogyakarta.

No comments:

Post a Comment

KUPU-KUPU MURUNG

  Hai dinda, Apa kabar di sana? Kurasa malammu baik-baik saja. Kuingat saat pertama matamu menjangkau mataku Ada luka dalam di sana, yang en...