Saturday, April 8, 2023

CINEMA BAKERY 2

1

Minggu sore itu aku tidak punya hal yang lebih baik untuk dilakukan, dan merasa sedang terbuka untuk mendapat pengalaman baru, jadi aku memutuskan untuk mengunjungi rumah Kak Sytha di daerah Kota Gede bersama pacarku.

Tidak terlalu sulit untuk menemukan rumah Kak Sytha. Itu adalah sebuah rumah kecil namun menarik, dengan jendelanya yang luas terbuka menawarkan udara segar.


Aku duduk di sebuah sofa, di ruang tamu yang ada di sebelah kanan, dan itu tampak seperti tempat yang tepat untuk berkumpul. Aku masih ingat warna dan tekstur langit-langit rumahnya sampai hari ini.

“Jan apik bianget umahmu, Mbak Ayu”, kataku dengan logat Bahasa Jawa ngapak.
Kak Sytha tersenyum mendengar ucapanku. Senyum yang sama saat di café sebuah senyum sederhana yang mengahangatkan

“Siapa ini, Nang?” tanya Kak Sytha

“Oh iya, lupa. Ini Elisa dia pacarku, Kak.”

Kemudian selayaknya orang yang sedang berkenalan dengan ramah mereka saling berjabat tangan dan melempar senyuman.

“Kak Sytha tinggal sendiri di sini?”
“Engga, aku bersama saudara, tetapi sudah seminggu dia sedang pergi ke Semarang”
“Owalah”

Aku melihat, ada banyak foto yang tergantung di ruang tamunya. Aku juga melihat beberapa piagam penghargaan yang tertulis atas nama Masytha Febria.Sepertinya itu adalah sebuah memory yang sengaja Kak Sytha kumpulkan untuk mengenang tiap momen di hidupnya. Semuanya berbicara tentang masa indah sepertinya, sebagai bingkisan yang diberikan waktu kepadanya. Memang waktu adalah sesuatu yang teramat bajingan, mudah mengukir kenang tapi tak sudi mengulang. Di dalam foto itu aku melihat Kak Sytha masih seorang gadis remaja yang polos dan lugu.


2

Setelah itu, kami bersama percakapan yang sangat khusus, di mana emosi langsung terasa di ruang tamu. Lonceng kecil yang menggantung di depan pintu, menggemerincing ditiup angin.
“Banyak memori yang terekam di kota ini, sehingga aku sangat rindu tiap kali harus meninggalkan kota ini”, katanya sambil menunjuk sebuah foto bersama teman-temannya. “Seakan Yogyakarta selalu menghisapku dari jarak jauh”
“Ini Kak Sytha?”, kutanya sambil memandang sebuah foto di mana Kak Sytha sedang duduk melamun.
“Iya. Itu aku waktu masih muda. Cantik tidak?” Dia tersenyum
“Cantik, Kak” Jawabku dan Elisa bersamaan.
“Itu apa kak?” Tanya Elisa sambal menunjuk ke sebuah kotak kayu kecil berwarna cokelat di sebelah foto Kak Sytha. Di atas kotak itu ada ukiran gambar dua dimensi dengan kalimat from Jogja with love.
“Hmmm…Kamu pintar Elisa memperhatikan sesuatu.”
Kemudian Elisa meminta izin untuk memegangnya. Elisa mencoba membuka kotak music itu, terlihat ada foto Kak Sytha yang diukir dengan design dua dimensi dan sepotong tulisan yang sudah mulai pudar.

Saat kotak music itu terbuka, di saat yang sama pula terlantun instrument “Castle In The Sky”. Lagu lama dari cerita fantasi eropa dimana karakter utama wanitanya Bernama Sytha.

“Wah, manis sekali ini kak? Kakak beli dimana?” Tanya Elisa
“Seseorang memberikannya kepadaku dahulu. Maaf tapi aku tidak tahu tempat dia membelinya”
“Makanya jangan penginan gitu kamu tuh.” Ledekku kepada Elisa
“Lha kenapa toh? Biarin sih, lagian ini manis sekali. Aku susah kak carinya, apalagi aransemennya di pas sama soundtrack kisah yang tokoh utamanya seperti nama kakak.”
“Ntar tak beliin yang soundtracknya donal bebek kaya kamu.” Kataku menggoda Elisa

Nyebahi, kamu itu” Gerutu Elisa

Kak Sytha tertawa melihat tingkah kami

Nyebahi, sudah lama sekali aku tak mendengar kata itu. Elisa, dulu yang memberikan kotak itu kepadaku adalah orang yang Nyebahi juga sama seperti Dewa.

“Oh ya? Apakah dia mantan Kak Sytha?” Elisa bertanya dengan mimic wajah menggoda Kak Sytha

“Heh, enggak sopan main tanya-tanya. Lagian baru kenal, sok akrab banget sih, El” Tepisku

“Oh maaf ya, Kak. Aku bercanda soalnya Kak Sytha ini orangnya ramah dan asyik sih jadi udah gampang kerasa deket aja gitu”

“Enggak apa-apa Elisa, justru aku seneng kalian tidak canggung begini.” Kak Sytha tersenyum

Kak Sytha menceritakan memang yang memberikan kotak itu bukan mantan kekasihnya, namun sepertinya ada kisah yang teramat sangat ingin dia ceritakan karena mungkin kisah itu sudah lama tak dia ceritakan kepada orang lain. Kisah yang sepertinya membuat Wanita ramah ini membendung rindu teramat sangat sehingga mesti membuatnya terjun ke dalam jurang kehilangan bernama ingatan.

Kak Sytha tidak mengatakannya secara langsung, namun semua itu tergambar jelas di raut wajah dan matanya saat dia mengisahkan sepercik tentang kotak music itu.

“Kak Sytha, sepertinya menarik sekali. Boleh tidak kak aku dengar kisah Kakak dan laki-laki itu dari awal pertemuannya.” Rengek Elisa

Bukan Elisa Namanya kalau tidak penasaran dengan kisah dua insan yang jatuh cinta. Karena memang pacarku ini adalah penggila novel roman.

“Aku akan menceritakannya kepada kalian, dan mungkin kalian adalah dua orang pertama yang aku ceritakan secara detail mengenai dia. Manusia yang membendung airmata dibalik tawa, yang pernah membuat Yogyakarta menjadi lebih manis dan istimewa dari biasanya.”

“Wah mau-mau, Kak. Aku bakal nyimak betul” Kata Elisa antusias.

Kak Sytha tersenyum.

Sepertinya Kak Sytha akan mengajak kami berjalan di lorong gelap hatinya, dimana di sana ada jurang kehilangan dan kepingan rindu-rindu yang dingin.

Aku dan Elisa membetulkan posisi duduk, Kak Sytha duduk dihadapan kami dengan kotak music di genggamannya.

 

 

Dari penulis:

“Lanjutannya masih rahasia ye…hahahahaha”

No comments:

Post a Comment

KUPU-KUPU MURUNG

  Hai dinda, Apa kabar di sana? Kurasa malammu baik-baik saja. Kuingat saat pertama matamu menjangkau mataku Ada luka dalam di sana, yang en...