1
Minggu sore itu aku tidak punya hal yang lebih
baik untuk dilakukan, dan merasa sedang terbuka untuk mendapat pengalaman baru,
jadi aku memutuskan untuk mengunjungi rumah Kak Sytha di daerah Kota Gede bersama
pacarku.
Tidak terlalu sulit untuk menemukan rumah Kak Sytha. Itu adalah sebuah rumah
kecil namun menarik, dengan jendelanya yang luas terbuka menawarkan udara
segar.
Aku duduk di sebuah sofa, di ruang tamu yang ada di sebelah kanan, dan itu
tampak seperti tempat yang tepat untuk berkumpul. Aku masih ingat warna dan
tekstur langit-langit rumahnya sampai hari ini.
“Jan apik bianget umahmu, Mbak Ayu”, kataku dengan
logat Bahasa Jawa ngapak.
Kak Sytha tersenyum mendengar ucapanku. Senyum
yang sama saat di café sebuah senyum sederhana yang mengahangatkan
“Siapa ini, Nang?” tanya Kak Sytha
“Oh iya, lupa. Ini Elisa dia
pacarku, Kak.”
Kemudian selayaknya orang yang
sedang berkenalan dengan ramah mereka saling berjabat tangan dan melempar senyuman.
“Kak Sytha tinggal sendiri di
sini?”
“Engga, aku bersama saudara, tetapi sudah
seminggu dia sedang pergi ke Semarang”
“Owalah”
Aku melihat, ada banyak foto yang tergantung di ruang tamunya. Aku juga melihat
beberapa piagam penghargaan yang tertulis atas nama Masytha Febria.Sepertinya
itu adalah sebuah memory yang sengaja Kak Sytha kumpulkan untuk mengenang tiap
momen di hidupnya. Semuanya berbicara tentang masa indah sepertinya, sebagai bingkisan
yang diberikan waktu kepadanya. Memang waktu adalah sesuatu yang teramat
bajingan, mudah mengukir kenang tapi tak sudi mengulang. Di dalam foto itu aku
melihat Kak Sytha masih seorang gadis remaja yang polos dan lugu.
2
Setelah itu, kami bersama percakapan yang sangat
khusus, di mana emosi langsung terasa di ruang tamu. Lonceng kecil yang
menggantung di depan pintu, menggemerincing ditiup angin.
“Banyak memori yang terekam di kota ini,
sehingga aku sangat rindu tiap kali harus meninggalkan kota ini”, katanya
sambil menunjuk sebuah foto bersama teman-temannya. “Seakan Yogyakarta selalu
menghisapku dari jarak jauh”
“Ini Kak Sytha?”, kutanya sambil memandang
sebuah foto di mana Kak Sytha sedang duduk melamun.
“Iya. Itu aku waktu masih muda. Cantik tidak?” Dia
tersenyum
“Cantik, Kak” Jawabku dan Elisa bersamaan.
“Itu apa kak?” Tanya Elisa sambal menunjuk ke
sebuah kotak kayu kecil berwarna cokelat di sebelah foto Kak Sytha. Di atas
kotak itu ada ukiran gambar dua dimensi dengan kalimat from Jogja with love.
“Hmmm…Kamu pintar Elisa memperhatikan sesuatu.”
Kemudian Elisa meminta izin untuk memegangnya. Elisa
mencoba membuka kotak music itu, terlihat ada foto Kak Sytha yang diukir dengan
design dua dimensi dan sepotong tulisan yang sudah mulai pudar.
Saat kotak music itu terbuka, di
saat yang sama pula terlantun instrument “Castle In The Sky”. Lagu lama
dari cerita fantasi eropa dimana karakter utama wanitanya Bernama Sytha.
“Wah, manis sekali ini kak? Kakak
beli dimana?” Tanya Elisa
“Seseorang memberikannya kepadaku dahulu. Maaf tapi aku tidak tahu tempat dia
membelinya”
“Makanya jangan penginan gitu kamu tuh.” Ledekku
kepada Elisa
“Lha kenapa toh? Biarin sih, lagian ini manis
sekali. Aku susah kak carinya, apalagi aransemennya di pas sama soundtrack kisah
yang tokoh utamanya seperti nama kakak.”
“Ntar tak beliin yang soundtracknya donal bebek kaya kamu.” Kataku menggoda
Elisa
“Nyebahi, kamu itu”
Gerutu Elisa
Kak Sytha tertawa melihat tingkah
kami
“Nyebahi, sudah lama
sekali aku tak mendengar kata itu. Elisa, dulu yang memberikan kotak itu
kepadaku adalah orang yang Nyebahi juga sama seperti Dewa.
“Oh ya? Apakah dia mantan Kak Sytha?”
Elisa bertanya dengan mimic wajah menggoda Kak Sytha
“Heh, enggak sopan main
tanya-tanya. Lagian baru kenal, sok akrab banget sih, El” Tepisku
“Oh maaf ya, Kak. Aku bercanda
soalnya Kak Sytha ini orangnya ramah dan asyik sih jadi udah gampang kerasa
deket aja gitu”
“Enggak apa-apa Elisa, justru aku
seneng kalian tidak canggung begini.” Kak Sytha tersenyum
Kak Sytha menceritakan memang
yang memberikan kotak itu bukan mantan kekasihnya, namun sepertinya ada kisah
yang teramat sangat ingin dia ceritakan karena mungkin kisah itu sudah lama tak
dia ceritakan kepada orang lain. Kisah yang sepertinya membuat Wanita ramah ini
membendung rindu teramat sangat sehingga mesti membuatnya terjun ke dalam
jurang kehilangan bernama ingatan.
Kak Sytha tidak mengatakannya
secara langsung, namun semua itu tergambar jelas di raut wajah dan matanya saat
dia mengisahkan sepercik tentang kotak music itu.
“Kak Sytha, sepertinya menarik
sekali. Boleh tidak kak aku dengar kisah Kakak dan laki-laki itu dari awal
pertemuannya.” Rengek Elisa
Bukan Elisa Namanya kalau tidak
penasaran dengan kisah dua insan yang jatuh cinta. Karena memang pacarku ini
adalah penggila novel roman.
“Aku akan menceritakannya kepada
kalian, dan mungkin kalian adalah dua orang pertama yang aku ceritakan secara
detail mengenai dia. Manusia yang membendung airmata dibalik tawa, yang pernah
membuat Yogyakarta menjadi lebih manis dan istimewa dari biasanya.”
“Wah mau-mau, Kak. Aku bakal nyimak
betul” Kata Elisa antusias.
Kak Sytha tersenyum.
Sepertinya Kak Sytha akan
mengajak kami berjalan di lorong gelap hatinya, dimana di sana ada jurang kehilangan
dan kepingan rindu-rindu yang dingin.
Aku dan Elisa membetulkan posisi
duduk, Kak Sytha duduk dihadapan kami dengan kotak music di genggamannya.
Dari penulis:
“Lanjutannya masih rahasia ye…hahahahaha”
No comments:
Post a Comment