Kiranya tak perlu ada cerita.
Tentang akar yang tak bernyawa.
Lalu, bagaimana mungkin.
Tumbuh pohon rindang.
Yang mampu meneduhkanku, dibawahnya.
Dan buatku berayun bersama papan kayu.
Dengan tali, yang terkait dirantingnya.
Rasanya, sudah tiada berarti
mengharap pohon rindang itu kembali
Karena, mungkin sekarang.
Dia sudah dibarzah, dan sudah lama menepi.
Burung pun kini enggan,
untuk mampir dan menemaniku.
Sekadar berbincang dan menikmati bir,
tentunya dengan ucapan-ucapan mencibir.
Lewat nada, yang dibawa dari kicauan lelah.
Sepi.
Yang tinggal kini,
hanya ilalang hambar yang menemani.
Papan kayu yang dulunya berayun,
sekarang hanya bisa menggelepar.
Tepar, diatas tanah.
Sepi.
Layaknya hujan petang
yang menghapus bintang.
Aku pun hanya duduk diam.
Sambil memandangimu,
yang sembunyi di awan sesal.
Dan berharap hujan
menghapus awan sesal yang kian menggumpal.
Yang setelahnya, pasti.
Akan membasahi tiap kotak demi kotak
di dinding jiwaku yang mulai retak.
Tuesday, December 17, 2013
Sunday, December 15, 2013
Balada Bahtera Buta
Pagi yang tenang
dengan balutan riang.
Sepertinya, sudah pernah tampak.
Didermaga sayu pantai nestapa.
Aku melihatnya, di bening mata
yang tengah menyajikan segelas tawa.
Tarian lembut jemari
diatas senar petikan
yang kemudian diiringi
oleh dawai keabadian.
Kujadikan, suatu pelebur derita.
Serta hiburan, pelipur lara.
Begitu rinci dan sederhana
Bak sebuah drama
Dengan segala rasa
dengan segala makna.
Yang tak pernah kumengerti alasannya.
Bahkan,
saat kedua mata ini mengejekku.
Aku tetap belum mengerti
keterpakuanmu padaku.
Hingga sampai petang datang kepangkuan.
Aku tetap belum mengerti.
Jika ini sebuah petualangan tanpa arti
mungkin karenanya
sudah lama aku menepi.
Tapi hanya entah yang aku pahami.
dengan balutan riang.
Sepertinya, sudah pernah tampak.
Didermaga sayu pantai nestapa.
Aku melihatnya, di bening mata
yang tengah menyajikan segelas tawa.
Tarian lembut jemari
diatas senar petikan
yang kemudian diiringi
oleh dawai keabadian.
Kujadikan, suatu pelebur derita.
Serta hiburan, pelipur lara.
Begitu rinci dan sederhana
Bak sebuah drama
Dengan segala rasa
dengan segala makna.
Yang tak pernah kumengerti alasannya.
Bahkan,
saat kedua mata ini mengejekku.
Aku tetap belum mengerti
keterpakuanmu padaku.
Hingga sampai petang datang kepangkuan.
Aku tetap belum mengerti.
Jika ini sebuah petualangan tanpa arti
mungkin karenanya
sudah lama aku menepi.
Tapi hanya entah yang aku pahami.
Saturday, December 14, 2013
Selembar Terang Untuknya
Inginku denganmu:
layaknya Pertemuan,
antara nelayan pesisir dengan lautan
Sampai kulihat
apa yang tersirat
disamudra mata indahmu.
tentang lalu
yang memahat haru biru.
Malam ini serasa tanpa ujung
karena, sampan ku dayung
di atas samudra air matamu
hingga pelabuhan yang bernama"pagi" serasa jauh.
Tutur sang cakrawala: "bawa aku untuknya!
agar dia merasakan kehangatanku di dinginnya malam
dengan kau disandingnya."
Lalu kan kuhancurkan
dinding luka dihatimu
dengan kepalan tanganku,
yang setelahnya kan memelukmu.
Hingga kau tertidur didekapku.
Dan kala kau terjaga
akan kau lihat, nyata
bahagia dan nestapa.
Yang duduk bersama
dalam satu meja.
layaknya Pertemuan,
antara nelayan pesisir dengan lautan
Sampai kulihat
apa yang tersirat
disamudra mata indahmu.
tentang lalu
yang memahat haru biru.
Malam ini serasa tanpa ujung
karena, sampan ku dayung
di atas samudra air matamu
hingga pelabuhan yang bernama"pagi" serasa jauh.
Tutur sang cakrawala: "bawa aku untuknya!
agar dia merasakan kehangatanku di dinginnya malam
dengan kau disandingnya."
Lalu kan kuhancurkan
dinding luka dihatimu
dengan kepalan tanganku,
yang setelahnya kan memelukmu.
Hingga kau tertidur didekapku.
Dan kala kau terjaga
akan kau lihat, nyata
bahagia dan nestapa.
Yang duduk bersama
dalam satu meja.
Gerimis Sepi
Tak kulihat mentari menari
menghangatkan dinding sepi,
yang melekat keras pada sebongkah hati.
menghangatkan dinding sepi,
yang melekat keras pada sebongkah hati.
Hanya mendung dan temaram
yang disusul rintik gerimis,
seolah kian menikam dan menghujam
cakrawala yang tipis.
cakrawala yang tipis.
Ranting-ranting basah
berkata padaku: tak perlu menengadah,
tak mungkin mentari menyelinap
di rintik-rintik yang kian meluap.
Lantas, apa lagi yang kau nantikan?"
Subscribe to:
Posts (Atom)
KUPU-KUPU MURUNG
Hai dinda, Apa kabar di sana? Kurasa malammu baik-baik saja. Kuingat saat pertama matamu menjangkau mataku Ada luka dalam di sana, yang en...
-
Dari balik rambutmu, salju turun menabur pilu. Kicau burung menunggu, bersama kopi dan buku-buku. Serta hangat senja disisimu Bulan ini belu...
-
Seperti surat kaleng di laut yang entah kapan sampai pada tujuan. Terombang-ambing bersama deru angin mendesing memukul sepi. Berayun bergel...