Pagi yang tenang
dengan balutan riang.
Sepertinya, sudah pernah tampak.
Didermaga sayu pantai nestapa.
Aku melihatnya, di bening mata
yang tengah menyajikan segelas tawa.
Tarian lembut jemari
diatas senar petikan
yang kemudian diiringi
oleh dawai keabadian.
Kujadikan, suatu pelebur derita.
Serta hiburan, pelipur lara.
Begitu rinci dan sederhana
Bak sebuah drama
Dengan segala rasa
dengan segala makna.
Yang tak pernah kumengerti alasannya.
Bahkan,
saat kedua mata ini mengejekku.
Aku tetap belum mengerti
keterpakuanmu padaku.
Hingga sampai petang datang kepangkuan.
Aku tetap belum mengerti.
Jika ini sebuah petualangan tanpa arti
mungkin karenanya
sudah lama aku menepi.
Tapi hanya entah yang aku pahami.
No comments:
Post a Comment