Friday, February 21, 2020

Lamunan Angan Bersama Angin

Mataku belum mengantuk
lelah datang berikan peluk
Tertawaku kini sempit
Terhimpit.
Sakit dan menjerit

Sesuatu terhanyut dari dermaga.
Seperti garam di atas samudra
Mengalir dan mengapung
Mengerak pada palung.

Anganku hanya ingin
Yang mengembara
Bersama doa-doa di udara
Selandai samudra seluas semesta

Angin membawa bisu yang bising
Terbanglah, jauh lalu menetap sekali lagi

Selagi daun pohon masih rimbun kau huni.
Selagi rantingnya masih kuat kau jejaki.

Thursday, February 20, 2020

Rayuan Terakhir

Boleh tidak aku jadi selimutmu pagi ini?

Semesta sedang ranum bersama hujan
Kemarau sudah lama dalam dekapan

Hey...aku menemukan bola salju disini
(kata seorang bocah)

Di kemarau panjang salju itu abadi
Tak mencair, diterpa kemarau ribuan hari

Kemarau tak berani menjamah air.
Sebab takdirnya setandus pasir.

Boleh tidak aku jadi cangkir yang kau kecup pagi ini?

Sebab aku ingin mati,
Jadi kaku namun lekat bersama pagi,
Jadi bisu dan lupa bahwa sudah malam hari.

Wednesday, February 19, 2020

Persetan

Aku ingin menepi
Bersama sloki-sloki penuh api
Yang membuatku lebih kekar dan berani
Melawan hati yang terpenjara logika dan kata-kata

Menyakitkan. Tersesat dalam perasaan.
Ah....!!!! Persetan...!!!!

Airmata jatuh di pelupuk mata lalu turun ke pipi.
Tapi kau tahu apa?!!
Tentang jeritan, tentang umpatan, tentang makian.
Logika dan kata tak cukup puas demikian
Lanjutkan...lanjutkan...lalu sekian

Malam-malam jauh aku ketakutan.
Malam-malam lekat aku kedinginan.

KUPU-KUPU MURUNG

  Hai dinda, Apa kabar di sana? Kurasa malammu baik-baik saja. Kuingat saat pertama matamu menjangkau mataku Ada luka dalam di sana, yang en...