Aku ingin menjadi petani
yang setiap saat bisa menanamkan kasih
lalu nantinya kan kita bina bibit bernama bahtera
dengan cinta. Dan
diujung musim kan kita petik bersama itu bahagia.
Sunday, September 28, 2014
Monday, May 5, 2014
Kawan Sejawat
Bersama pagi. Beberapa mata
menghadiahkanku sebuah ceria.
Mereka menggoreskan tawa
diatas kanvas putih bernama masa.
Biru juga kelabu menyatu bersamanya.
Kelak, bila hitam itu putih
kenangan akan jadi cerita
penuh makna,
untuk mereka setelahnya.
menghadiahkanku sebuah ceria.
Mereka menggoreskan tawa
diatas kanvas putih bernama masa.
Biru juga kelabu menyatu bersamanya.
Kelak, bila hitam itu putih
kenangan akan jadi cerita
penuh makna,
untuk mereka setelahnya.
Friday, April 25, 2014
Duka Dara
Dipeluk malam
kau menitihkan segala rasa
lewat haru yang kian merana,
kulihat siluet senja disebuah rona
dari warisan sang adam semata.
Ingin kurajut hatimu,
tapi dalam hati
masih ada hati
yang mesti aku rajut.
Ingin kugapai sudut matamu
agar aku bisa
menahan segala
sedihmu.
Oh, nona.
Cantikmu tak sepantasnya
menyesali
rafflesia penuh duri serta maki.
yang tumbuh dalam sanubari.
Oh, nona.
setiap senja kan berujung petang.
Dan setiap petang berhias bintang.
Senyum kecilmu terasa syahdu
walau dari dua sudut langit
aku menikmatinya.
kau menitihkan segala rasa
lewat haru yang kian merana,
kulihat siluet senja disebuah rona
dari warisan sang adam semata.
Ingin kurajut hatimu,
tapi dalam hati
masih ada hati
yang mesti aku rajut.
Ingin kugapai sudut matamu
agar aku bisa
menahan segala
sedihmu.
Oh, nona.
Cantikmu tak sepantasnya
menyesali
rafflesia penuh duri serta maki.
yang tumbuh dalam sanubari.
Oh, nona.
setiap senja kan berujung petang.
Dan setiap petang berhias bintang.
Senyum kecilmu terasa syahdu
walau dari dua sudut langit
aku menikmatinya.
Tuesday, April 15, 2014
Biduan Jalan
Denting nada melodi sunyi,
beserta sajian sanggurdi.
Disana kusematkan mimpi,
dan ribuan harapan diri.
Nilon dan kayu
pemberianmu
ku alun merdu
senada jalanku.
Jangan!
Jangan tanya dia.
Meski bisu, dia tau.
Tentang segala doa
dan segala dosa.
Yang tercecer di jalanku.
beserta sajian sanggurdi.
Disana kusematkan mimpi,
dan ribuan harapan diri.
Nilon dan kayu
pemberianmu
ku alun merdu
senada jalanku.
Jangan!
Jangan tanya dia.
Meski bisu, dia tau.
Tentang segala doa
dan segala dosa.
Yang tercecer di jalanku.
Friday, April 11, 2014
Munir
Mangkatmu mengundang haru
juga tanya yang beribu.
Badung perangkul rakyat.
Di atas awang kau sekarat
sampai akhirnya kau mangkat.
Ternyata hanya seujung kuku
mereka mengingatmu.
Prajuritku dulu,
sebelum mencapai windu
kau janjikannya keadilan.
Kini, berlalu.
Hanya misteri yang kau hadiahkan.
juga tanya yang beribu.
Badung perangkul rakyat.
Di atas awang kau sekarat
sampai akhirnya kau mangkat.
Ternyata hanya seujung kuku
mereka mengingatmu.
Prajuritku dulu,
sebelum mencapai windu
kau janjikannya keadilan.
Kini, berlalu.
Hanya misteri yang kau hadiahkan.
Wednesday, April 9, 2014
Sebingkai Pilu
Hutan belantara yang bernyawa,
tengah menangis pilu tersedu.
Bukan karna kemarau,
Tapi penghujan yang melukis luka.
Penghujan yang menitihkan kenistaan,
dan diam. Menyaksikan para durjana
menghuni surga nusantara.
Di tengah remang sejahtera
mereka menebarkan dusta.
Di hening sepi,
laut yang murung
bersama langit tua
asik berisik.
Membincang tanah kaya,
gelisah.
Yang kian lama
bahagia pun enggan menjamah
tengah menangis pilu tersedu.
Bukan karna kemarau,
Tapi penghujan yang melukis luka.
Penghujan yang menitihkan kenistaan,
dan diam. Menyaksikan para durjana
menghuni surga nusantara.
Di tengah remang sejahtera
mereka menebarkan dusta.
Di hening sepi,
laut yang murung
bersama langit tua
asik berisik.
Membincang tanah kaya,
gelisah.
Yang kian lama
bahagia pun enggan menjamah
Kisah Berdebu
Kuingat saat waktu bukan belenggu.
Dan cinta bukan sebuah jarak.
Masa dimana benci menyatu dengan debu.
Dan tawa yang menyatu dengan udara,
juga cipratan kenakalan
dari hujan ceria. Semua
terbang, berlalu bagai abu.
Kemudian setelah sampai tujuan
dan kau temui sebuah jalan.
Kan kau jumpai, kerlip kunang
pelita abadi kenangan
saat kau berpapasan.
Dan cinta bukan sebuah jarak.
Masa dimana benci menyatu dengan debu.
Dan tawa yang menyatu dengan udara,
juga cipratan kenakalan
dari hujan ceria. Semua
terbang, berlalu bagai abu.
Kemudian setelah sampai tujuan
dan kau temui sebuah jalan.
Kan kau jumpai, kerlip kunang
pelita abadi kenangan
saat kau berpapasan.
Ujung Gelap
Kala senja pamit padaku.
Aku hanya terdiam,
dan hanya bisa memandangi jinggamu.
Tak mampu kucegah apalagi kuraih.
Aku hanya terdiam,
mengharapkan bintang
di gerimis petang.
Sambil kuracun diri ini
dengan sebongkah bara mini.
Gerimis yang jatuh itu air
tetapi mengapa luka yang menyentuhku.
Ingin rasanya, bila dapat.
Ku jual segala luka
kepada pengepul bahagia.
Di tepi kaca aku termenung
meringkuk dingin untuk merenung.
Dari jendela menyelinap duri
yang melukaiku dengan sepi.
Lalu, bersama airmata
kutengadahkan tanganku
dan berucap syahdu.
Kan aku tuju stasiun penghabisan,
berharap izrail membawaku
dan menghapus rindu yang pilu.
Aku hanya terdiam,
dan hanya bisa memandangi jinggamu.
Tak mampu kucegah apalagi kuraih.
Aku hanya terdiam,
mengharapkan bintang
di gerimis petang.
Sambil kuracun diri ini
dengan sebongkah bara mini.
Gerimis yang jatuh itu air
tetapi mengapa luka yang menyentuhku.
Ingin rasanya, bila dapat.
Ku jual segala luka
kepada pengepul bahagia.
Di tepi kaca aku termenung
meringkuk dingin untuk merenung.
Dari jendela menyelinap duri
yang melukaiku dengan sepi.
Lalu, bersama airmata
kutengadahkan tanganku
dan berucap syahdu.
Kan aku tuju stasiun penghabisan,
berharap izrail membawaku
dan menghapus rindu yang pilu.
Friday, March 21, 2014
Subscribe to:
Posts (Atom)
KUPU-KUPU MURUNG
Hai dinda, Apa kabar di sana? Kurasa malammu baik-baik saja. Kuingat saat pertama matamu menjangkau mataku Ada luka dalam di sana, yang en...
-
Dari balik rambutmu, salju turun menabur pilu. Kicau burung menunggu, bersama kopi dan buku-buku. Serta hangat senja disisimu Bulan ini belu...
-
Seperti surat kaleng di laut yang entah kapan sampai pada tujuan. Terombang-ambing bersama deru angin mendesing memukul sepi. Berayun bergel...