Monday, October 29, 2018

Jeruji Besi

Selamat pagi, kotaku.
Hari ini saya menemui teman saya yang sudah setahun ini mendekam di rutan belakang paviliun dinas wilayah kotaku.
Gigih, namun aku lebih akrab menyapanya "Bargo".
Lokasi rutan yang berada di tengah areal persawahan membuat hari ini serasa lebih menyengat dengan matahari yang tersenyum lebar. Pintu besi yang tingginya lebih dari lima kaki berdiri tegak di depanku. Petugas jaga dengan perawakan tinggi besar menyapaku,
"Selamat siang, ada yg bisa dibantu." Katanya
"Liat barang lama." Jawabku singkat.
"Udah lapor?"
"Baru sampai, pak. Sebelah mana?"
"Oke, tulis nama sampeyan disini." (Sambil menyodorkan kertas dan bolpoin)
Segera kuraih kedua barang tadi dan memanfaatkannya. Menurut saya yang biasa di bidang pelayanan sipir penjara ini cukup ramah karena nada bicara yang tidak terlalu menekan dan senyum tipis yang mengembang.
"Mari pak saya antar. Silahkan bapak tulis nama yang ingin bapak temui."
Akhirnya saya dibawa ke ruang tunggu. Sebelum sampai ke ruang tunggu saya masuk melewati pintu besi besar tadi, dibalik pintu suasana serasa berbeda. Dingin, gelap, dan sunyi. Lokasi yang berbentuk lorong semakin membuat suasana semakin mengerikan karena gema yang ditimbulkan dari tiap benda yang menghasilkan bunyi akan sangat keras terdengar.
Bargo, dia adalah teman dari kecil. Kita menempuh pendidikan sekolah dasar bersama di salah satu sekolah yang ada di desa kami. Dia salah satu sahabat dekat yang kukenal pemberani namun kadang lebih mengedepankan emosi daripada otak. Itulah sebabnya dia kini mendekam dibalik jeruji besi karena kasus penganiyaan atas seorang anak TNI yang dipukulinya sampai kritis tempo hari.
Sosok laki-laki berpotongan cepak datang dengan kaos oblong warna hitam dan kolor 3/4 warna abu-abu. Aku berdiri menghadapinya dengan pandangan tajam.
"Bocil, bajingan tengik yang jadi pegawai." Katanya sambil tersenyum menghadapiku. Di ulurkan tangannya padaku.
Lalu aku tersenyum padanya, "sehat bar?"
"Ya, sehat. Apa kabar ente? Duduk cil." Katanya.
"Kabar baik, bar. Seger bener ente, bar. Betah disini?" Tanyaku.
Bargo tersenyum kecut, "intinya cil. Ga usah kesuwen."
"Hahahahaha, bar bar... Gak bisa apa kita ngobrol dulu. Rokok nih." Kutawarkan rokok padanya.
Bargo menyalakan rokok.
"Ada perlu apa anak kota sampai jauh-jauh datang ke tempat mengerikan ini."
"Ente gak berubah, su!" Kataku.
"Gimana, ada kerjaan?" Bargo menelisik.
"Bar, aku bukan politisi yang datang karena ada perlu. Tapi aku datang untuk silaturahmi."
"Cocotmu mambu ciu kakehan nglimur"
Aku tersenyum, "Kok bisa orang bandel kaya kamu meringkuk di kandang kaya macan bar ketembak pemburu."
"Asu raimu, kadang aku mikir. Aku yang bodoh atau kau yang pecundang, cil."
"Anggap saja yang kedua, bar."
"Tapi sayangnya penjara ajarkan aku banyak hal. Dan memaksaku memilih pilihan yang pertama."
Aku tertawa keras.
"Kau menang cil. Asu ya."
"Bar...bar...kaget aku pertama kali dengar kau di tahan. Dan aku sampaikan maaf karena baru kali ini baru sempat datang."
"Kukira kau sudah lupa kawanmu dan jadi anak kota di Semarang"
"Bar, aku ora pernah lali. Sama seorang teman yang katanya Gento tapi ora wani nyerang sekolahku waktu SMA." HAHAHAHA
"Males kalau aku kudu ketemu wong koyo ente cil. Licik uteke!"
"Bukan licik Bargo. Tapi strategi. Liatlah, kau itu akhirnya mendekam gara-gara emosimu."
"Waktu kecil semua anak takut padaku, mung Kowe cil sing mlete. Dan memang aku akui mung Kowe sing iso njotos raiku sampe suek."
"Jadi dendam ente sekarang?" Aku tertawa.
"Ora dendam, cuman pengin mbales ibarat kaya SMS ga dibales kan ga enak." Bargo mendelik.
"Bar, Iki wis ora wayahe awakmu menunjukan diri jadi yang terkuat soal adu jotos. Tapi soal IQ. Soal pemikiran masa depan. Ente sudah seperti sodara tua buatku. Jadi kalaupun mau sekarang saja kau boleh bales yang kau rasa masih belum plong."
Bargo nyengir, di matikannya rokok yang tengah dia hisap,
"Emang bener kata orang-orang kampung, diantara anak cucu si mbahmu "Abu Jahal" kau yang paling mewarisi keberaniannya.
"Cangkemmu pengin tak suek bar?"
Bargo tertawa keras.
Bargo tahu betul aku paling tidak suka nama si mbahku dipanggil dengan julukannya "Abu Jahal". Dimata orang kampung simbahku adalah Gento paling di takuti, tapi dimata keluarganya dia ayah yang baik, yang tidak pernah menutupi kesalahannya. Okelah setiap orang punya sisi buruk pun dia juga punya sisi baik.
"Cil, diakui atau tidak di darahmu mengalir toksin dari mendiang simbahmu. Kamu ingat tragedi perang desa antara kampungmu dan kampung sebelah waktu ada pemilihan lurah. Kampung sebelah 3 orang kritis karena pukulan botol dan 5 orang bonyok. Tapi kenapa justru mereka yang di bui dan orang-orang kampungmu tidak? Kalau bukan kau siapa dalangnya? Kau punya otak macam celeng yang bisa cepat dan ilang disemak setelah menggondol yang kau cari."
"Darimana kau tahu soal itu?" Jawabku kaget.
"Saprol cerita semuanya." Bargo menyalakan rokoknya.
"Ngomong apa dia?!" Tanyaku gugup.
"Waktu itu rombongan desa sebelah hendak menyerang tempatmu bukan? Kau yang kebetulan waktu itu baru lulus SMA tahu hal itu karena dulu kau dekat dengan salah satu gadis disana. Dan kau mengawasi setiap gerakan, tongkrongan, sampai serangan."
"Lalu?"
"Dan kau tahu hukum polisi ketika itu kalau kita diserang duluan kita tidak dianggap bersalah, hanya membela diri jadi jika pun kasus tidak menjadi pihak yang bersalah"
Aku mulai kaget mendengar ucapan Bargo.
"Itu kan masa lalu, bar."
"Yah, masa lalu. Dimana semua pemuda tanggung bahkan orang tua kau arahkan tutup semua pintu keluar di lapangan itu seperti seorang pemburu yang menggerakkan jaring agar segerombolan ikannya tak lepas. Dalam kondisi mabuk dan suasana genting susah untuk seekor setan tak mengikuti emosinya sehingga mereka memukul lebih dulu, baru saat setelah salah seorang dari komplotanmu dipukul kau arahkan pukul balik. Padahal habis itu kau duduk merokok dipinggir lapangan sambil minum kopi."
Aku tersenyum getir, "Sedetail itu kau bar."
"Sekarang kau mungkin sudah tak pandai berkelahi, mending sekarang kau masuk jadi seorang politisi." Kata Bargo yang menyeringai.
"Aku tidak minat, bar. Aku ingin hidup tenang di desa. Jadi manusia yang lebih baik. Hijrah, mendidik anak dan istri serta memperbaiki keturunan."
"Uhuk...!!" Bargo tersedak. Kemudian dia tertawa. "Heh bajingan, ular itu tidak bisa mendustai kalau dirinya berbisa dan mengandung toksin..."
"Tapi dia bisa jadi makhluk yang berarti untuk alam dengan memaklumi keberadaan dan fungsinya" kataku menyergap ucapan Bargo.
Bargo diam.
"Aku mikir, dulu emang aku bejat. Mabuk dan Berkelahi sudah seperti rutinitas. Tapi Sekarang aku mulai mikir untuk menjadi manusia lebih baik. Aku bakal punya istri punya anak. Kalau aku terus begini apa jadinya? Dulu aku bajingan, bangsat, keparat, atau apalah tapi itu sudahlah biar itu untuk diriku sendiri. Sekarang aku harus memikirkan wanita yang disebelahku, menafkahinya, memberikan contoh untuk anakku kelak. Maka dari itu aku ingin berubah, bar. Aku tidak mengelak apa yang kau bicarakan benar. Aku seorang yang mengandung toksin. Tapi anakku tidak boleh jadi seperti aku. Dia berhak berevolusi."
Bargo diam, kali ini aku melihat dia diam lebih dalam.
"Ayolah bar, kita berubah. Kau kan juga ingin banggakan orang tuamu. Itu saja bar. Kau yang aku anggap saudara maka dari itu aku sampaikan ini. Namun sekiranya itu menyinggungmu aku minta maaf."
Bargo tersenyum dalam tunduknya.
"Yah, kau benar cil. Kita hidup untuk mati. Mestinya aku sadari ini. Mungkin kau benar. Yang lalu biarlah jadi dongeng untuk kelak kita jadikan cambuk mendidik anak kita agar tidak masuk ke jurang yang sama..."
Tiba-tiba suara sipir penjara memecah obrolan kami.
"Mohon maaf, waktu jenguk sudah habis."
"Oke pak, saya pamit dulu dengan saudara saya." Kataku.
"Terima kasih banyak, cil. Semoga kita ketemu lagi." Jawab Bargo sambil menyalamiku.
"Pasti, Bar. Insyaallah. Semoga kita bertemu dalam situasi yang lebih baik."
Lalu sipir penjara memboyong Bargo kembali ke balik jeruji besi.

KUPU-KUPU MURUNG

  Hai dinda, Apa kabar di sana? Kurasa malammu baik-baik saja. Kuingat saat pertama matamu menjangkau mataku Ada luka dalam di sana, yang en...