Gigih, namun aku lebih akrab menyapanya "Bargo".
"Emang bener kata orang-orang kampung, diantara anak cucu si mbahmu "Abu Jahal" kau yang paling mewarisi keberaniannya.
Ini tentang kisah lama:
Kisah ketika aku memuntahkan darah beberapa cc yang melewati kerongkonganku.
Yogyakarta, Januari 2012.
Aku sendirian. Datanglah kedepan mejaku lalu menari. Aku suka sendirian. Mengukur dan mengukir soal segala hal di diriku. Malam itu aku berkunjung ke sebuah bar pinggiran kota Jogja untuk mengusir sepi. Aku ingin mengusir, ibu dan ayah dari benakku. Juga Adikku. Bocah kecil, yang sangat mengidolakanku. Satu bungkus rokok dan Bir Hitam jadi saksi kelam malam itu. Tentang sebuah keputusan berat yang mesti aku tinggalkan. Untuk meninggalkan dunia musik. Beberapa botol bir hitam kutenggak dan kubiarkan masuk dan melewati kerongkonganku. Aku kesepian dan ingin bernyanyi.
Aku bawa kertas-kertas yang berisi deretan puisi-puisiku yang ingin aku lagukan tapi entah dan percuma (aku rasa).
Aku ingin tidur. Sudah larut rasanya. Tuhan mungkin masih keliling di sudut dunia yang lain. Membiarkanku lebih tegar bersama ratapan karena aku yg menjauh darinya.
Bir ke tujuh malam itu selesai kutenggak lalu aku menulis,
Langit gelap dan bintang tak lagi gemerlap.
Botol bir menghina dan mencaci maki.
Siapa yang ingin memelukku hari ini?
Bahkan papir pun enggan.
Dia jatuh ke tanah lalu terinjak.
Lagi lagi perpisahan keparat jadi lahat untuk tawa yang pernah pecah.
Sudahlah biar terbang lalu tenggelam dan menghilang.
Aku cuma selembar daun lepas, terhempas lalu terkapar. Disisimu.
Huaaaaakkk....!!! Merah. Lalu gelap.
Aku sendirian.
Menahan sakit.
Menyulam duka.
Lalu sedih dan terhanyut oleh ribuan bir di kerongkongan yang menohok rasa bak sekam.
Sayap kecil terbangkan aku
Bersama angin dan angan
Aku terus melepaskan senyuman
Tapi
aku punya wajah menyeramkan
Dibalik sayap indah menyilaukan.
Tak lebih menjijikkan dari bentukku sebelumnya.
Hanya saja sekarang kau tengah melihat sesuatu yang baru diantarkan cahaya
kepada matamu.
Jika saatnya kau tahu rupaku yang menyeramkan itu hanya akan menimbulkan duka dan luka lama yang terulang.
Hai dinda,
Kuulang lagi bekas senyummu saat pertama menemuiku
Ada bekas luka dalam di sana
Lalu aku memeluknya dalam sabar.
Membuatmu bermakna dan tak kubiarkan terlempar.
Semoga yang kutinggalkan kelak terkenang
Baik di sepimu maupun di senangmu.
Semoga luka di waktu lampau itu merubah semuanya
Menghapusnya.
Ah kurasa terlalu muluk.
Setidaknya aku ingin kamu jadi kupu-kupu biru
yang terbang jauh dengan kepak sayap indah itu.
Biar aku tetap jadi aku.
Sendu yang kutemui kali ini adalah kehampaan diri yang tak tahu dimana berpijak dan sekuat apa langkah menjejak.
Senja dan perjalanan, ajarkan aku; Tentang sebuah tujuan, syarat untuk sampai dan melepaskan segala lelah dan resah. Untuk meluapakan segala pekik karena tercekik nafas diri dari nafsu diri.
Merah. Atau malah jingga redup dan menenangkan disana. Adakah disana kiranya kutemui senyummu juga.
Kini kiranya aku jadi tak sudi lelah, tapi tak mau juga jadi pemalas yang enggan payah.
Itu saja.
Ada satu musim dimana kembang mekar bersama gerimis yang membasahi tiap daun gugur di tepi rumput.
Setelah senja pulang dan malam berhias angin dingin yang membawa getir berayun di wajahmu, seirama gerimis.
Malam kadang lebih kejam dari kenangan. Membuat tubuhnya luas di tengah luka yg makin membuas.
Getir dan getar menyatu di jiwa insan yg mendayung sampan di samudra malam setelah purna jingga dari langit senja.
Nampaknya Surya masih belum puas tidur bersama Kokok ayam jago yang masih pulas dibuai malam yang bias. Bersama mimpi-mimpinya yang makin lugas seakan nyata realita tak ada beda.
Pelukan gelap nampaknya semakin dalam mendekap menusukkan tiap getir yang memberi getar pada luka yang menganga kala sepi mendera.
Apakah yg bisa dilakukan selain kepasrahan akan yang esa. Tentang laku yang sudah digaris memaku dan menyatu dalam tangis serta kepala yang makin menukik bersama histeris dalam kelam.
Hai dinda, Apa kabar di sana? Kurasa malammu baik-baik saja. Kuingat saat pertama matamu menjangkau mataku Ada luka dalam di sana, yang en...