Saturday, August 22, 2020

BUNGA MATAHARI TENGGELAM (kedua)


Ada senyum berwarna biru

mencoba rekah menahan pilu

di lintasan jalan dia mengadu

"tuhan apa salahku?"


Bunga matahari tak lagi cerah

senyumnya tak terarah

cerianya tak sumringah.


Bunga matahari tak lagi menari

karena waktu-waktu sendiri

menyayat hati.


Tenggelam tak mati

namun membiarkan langkah berhenti

tak lagi menanti

mengambil langkah sunyi

mempertaruhkan segala harmoni.


Dan kini aku rindu rekahnya.

Bunga matahari yang ingin aku lihat rekah sekali lagi  

Tuesday, June 23, 2020

Pelukan Gelap

Terik gelap menimbun panas,
palung sepi terpekik cemas,
hening pecah terbanting keras.
Rasa ingin yang menjelma dingin.
Harapan dan kehampaan;
Kini setebal nama dalam ingatan,
lirih beralih tergilas adzan,
waktu senja sebelum rembulan.
Datang perlahan merengkuh haribaan

Jangan sedih 
karena di depan lebih pedih
Jangan letih
Karena kau bukan makhluk ringkih
Jangan rapuh
Masih banyak suka duka bergemuruh

Semusim

Dari balik rambutmu,
salju turun menabur pilu.
Kicau burung menunggu,
bersama kopi dan buku-buku.
Serta hangat senja disisimu

Bulan ini belum November,
kerlip terang putih di atas putih.
Menggodaku dalam lamunan,
memaksaku memutar ingatan

Mentari terhapus salju,
sisakan bunga-bunga yang tumbuh membeku.
Rindu-rindu itu sedang mencari rumah berteduh,
dari gigil tubuh yang mengaduh,
sedang musim semi masih jauh.
Atau selamanya hanya salju yang jatuh

Jalan Pulang

Senja turun lebih dini.
Pada pelupuk matamu ramah berpenghuni.
Peluk itu luruh bersama sepi,
semacam ungkapan terpasung dihati.
Ingin kucaci maki diriku sendiri,
namun pagi kembali sembuhkan lagi

Semua sudah tertulis,
tak perlu kau coba seka gerimis.
Tak perlu lagi memendam tangis

Walaupun ada ingin teramat sangat,
tapi dingin semakin menyengat.
Mengganjal yang telah lekat
yang tak mampu buatku lesat

Menguras sabar di bawah sadar
membiarkan waktu memahat rindu.
Maka tak perlu khawatirkan rasamu,
karena rindu itu yang akan menuntunmu.

Mereka

Aku ingin sekali lagi,
menjadi yang paling muram.
Menjadi nada sumbang malam.
Menjadi pengusir lelah hari yang buram.

Dulu ayah selalu bilang,
kelak kau sendiri.
Kau sudah harus bisa mandiri.
Kelak langkahmu bersama gelap,
ada banyak luka yang mesti kau dekap,
ada banyak pilu yang mesti kau singkap.

Dulu ibu selalu bilang,
kelak di depan penuh ketidakpastian.
Ingatlah tuhan dan tanam kebaikan.
Kelak kau nahkoda
kapalmu bernama keluarga,
maka bijaklah, nak.

Dan yang selalu melekat,
doa kami selalu memelukmu
walau raga tak dapat bertemu.

Tepian Desa

Masih duduk bersama angin
menuangkan segala ingin
nyiur padi harmoni tersendiri
di tengah terik yang menggerogoti

Menepilah,
tanam jiwamu dalam rebah
karena masih banyak hari-hari yang lelah
bangkitlah.
Lalu kalahkan yang membuatmu gundah.

Friday, February 21, 2020

Lamunan Angan Bersama Angin

Mataku belum mengantuk
lelah datang berikan peluk
Tertawaku kini sempit
Terhimpit.
Sakit dan menjerit

Sesuatu terhanyut dari dermaga.
Seperti garam di atas samudra
Mengalir dan mengapung
Mengerak pada palung.

Anganku hanya ingin
Yang mengembara
Bersama doa-doa di udara
Selandai samudra seluas semesta

Angin membawa bisu yang bising
Terbanglah, jauh lalu menetap sekali lagi

Selagi daun pohon masih rimbun kau huni.
Selagi rantingnya masih kuat kau jejaki.

Thursday, February 20, 2020

Rayuan Terakhir

Boleh tidak aku jadi selimutmu pagi ini?

Semesta sedang ranum bersama hujan
Kemarau sudah lama dalam dekapan

Hey...aku menemukan bola salju disini
(kata seorang bocah)

Di kemarau panjang salju itu abadi
Tak mencair, diterpa kemarau ribuan hari

Kemarau tak berani menjamah air.
Sebab takdirnya setandus pasir.

Boleh tidak aku jadi cangkir yang kau kecup pagi ini?

Sebab aku ingin mati,
Jadi kaku namun lekat bersama pagi,
Jadi bisu dan lupa bahwa sudah malam hari.

Wednesday, February 19, 2020

Persetan

Aku ingin menepi
Bersama sloki-sloki penuh api
Yang membuatku lebih kekar dan berani
Melawan hati yang terpenjara logika dan kata-kata

Menyakitkan. Tersesat dalam perasaan.
Ah....!!!! Persetan...!!!!

Airmata jatuh di pelupuk mata lalu turun ke pipi.
Tapi kau tahu apa?!!
Tentang jeritan, tentang umpatan, tentang makian.
Logika dan kata tak cukup puas demikian
Lanjutkan...lanjutkan...lalu sekian

Malam-malam jauh aku ketakutan.
Malam-malam lekat aku kedinginan.

KUPU-KUPU MURUNG

  Hai dinda, Apa kabar di sana? Kurasa malammu baik-baik saja. Kuingat saat pertama matamu menjangkau mataku Ada luka dalam di sana, yang en...