Butir debu perlahan hangatkanku,
debu-debu yang kini mulai jadi bulu.
Bulu beribu terjahit jadi selimut kalbu;
Kala dingin rindu ramai menderu.
Aku masih kaku di tepi senja
Bersama puing yang jadi debu (kemana-mana).
Jika dapat, ingin aku kumpulkan debu itu lalu kuhamburkan.
Biar beterbangan bertabrakan berserakan lalu berantakan.
Aku duduk di hadapan lilin bersama senja
Kuingat lagi dawai ramai
yang dulu pernah buatku terpukau
Pada sebuah lagu tempo dulu.
Namun sekejap, ketika angin meniup lilin.
Terlahir temaram dari rahim kegelapan
Yang bernama asli kesepian.
Kini sang waktu tak bisa bedakan,
Antara; debu, rindu, dan pilu.