Redup pagi basuh mataku yang penuh debu.
Kutercengkram begitu erat hingga kuterjebak dalam pekat.
Belenggu ketololanku; membatu bisu dalam tiap derai nafas.
Kucari suara lantang yang memanggilku merdu, tapi tak
kutemui.
Telah kuselami luka, tapi dia tak tertangkap retina maya.
Harapku temukanmu dari ujung debu hingga pucuk salju.
Tapi aku masih saja terbang diantara jurang-jurang
tanya.
Aku dan ketidakwarasan berteman baik. Sejak retina nyata
membungkam yang maya, hingga kini kuberjaket tebal berjubal,
dan bebal.
No comments:
Post a Comment