Friday, April 25, 2014

Duka Dara

Dipeluk malam
kau menitihkan segala rasa
lewat haru yang kian merana,
kulihat siluet senja disebuah rona
dari warisan sang adam semata.

Ingin kurajut hatimu,
tapi dalam hati
masih ada hati
yang mesti aku rajut.

Ingin kugapai sudut matamu
agar aku bisa
menahan segala
sedihmu.

Oh, nona.
Cantikmu tak sepantasnya
menyesali
rafflesia penuh duri serta maki.
yang tumbuh dalam sanubari.

Oh, nona.
setiap senja kan berujung petang.
Dan setiap petang berhias bintang.

Senyum kecilmu terasa syahdu
walau dari dua sudut langit
aku menikmatinya.

Tuesday, April 15, 2014

Biduan Jalan

Denting nada melodi sunyi,
beserta sajian sanggurdi.
Disana kusematkan mimpi,
dan ribuan harapan diri.

Nilon dan kayu
pemberianmu
ku alun merdu
senada jalanku.

Jangan!
Jangan tanya dia.
Meski bisu, dia tau.
Tentang segala doa
dan segala dosa.
Yang tercecer di jalanku.

Friday, April 11, 2014

Munir

Mangkatmu mengundang haru
juga tanya yang beribu.
Badung perangkul rakyat.
Di atas awang kau sekarat
sampai akhirnya kau mangkat.

Ternyata hanya seujung kuku
mereka mengingatmu.
Prajuritku dulu,
sebelum mencapai windu
kau janjikannya keadilan.
Kini, berlalu.
Hanya misteri yang kau hadiahkan.

Wednesday, April 9, 2014

Sebingkai Pilu

Hutan belantara yang bernyawa,
tengah menangis pilu tersedu.
Bukan karna kemarau,
Tapi penghujan yang melukis luka.

Penghujan yang menitihkan kenistaan,
dan diam. Menyaksikan para durjana
menghuni surga nusantara.
Di tengah remang sejahtera
mereka menebarkan dusta.

Di hening sepi,
laut yang murung
bersama langit tua
asik berisik.
Membincang tanah kaya,
gelisah.
Yang kian lama
bahagia pun enggan menjamah

Kisah Berdebu

Kuingat saat waktu bukan belenggu.
Dan cinta bukan sebuah jarak.
Masa dimana benci menyatu dengan debu.
Dan tawa yang menyatu dengan udara,
juga cipratan kenakalan
dari hujan ceria. Semua
terbang, berlalu bagai abu.

Kemudian setelah sampai tujuan
dan kau temui sebuah jalan.
Kan kau jumpai, kerlip kunang
pelita abadi kenangan
saat kau berpapasan.

Ujung Gelap

Kala senja pamit padaku.
Aku hanya terdiam,
dan hanya bisa memandangi jinggamu.
Tak mampu kucegah apalagi kuraih.

Aku hanya terdiam,
mengharapkan bintang
di gerimis petang.
Sambil kuracun diri ini
dengan sebongkah bara mini.

Gerimis yang jatuh itu air
tetapi mengapa luka yang menyentuhku.
Ingin rasanya, bila dapat.
Ku jual segala luka
kepada pengepul bahagia.

Di tepi kaca aku termenung
meringkuk dingin untuk merenung.
Dari jendela menyelinap duri
yang melukaiku dengan sepi.

Lalu, bersama airmata
kutengadahkan tanganku
dan berucap syahdu.
Kan aku tuju stasiun penghabisan,
berharap izrail membawaku
dan menghapus rindu yang pilu.

KUPU-KUPU MURUNG

  Hai dinda, Apa kabar di sana? Kurasa malammu baik-baik saja. Kuingat saat pertama matamu menjangkau mataku Ada luka dalam di sana, yang en...