Untuk sebuah pelukan yang selalu lekat dalam ingatan.
Pada sebuah senyuman dalam kuyup kehujanan,
jatuh bangun menggapai bunga cinta yang kau injak jadi luka
di dingin November atap kota.
Setengah windu membayar rindu,
kesalahpahaman atau garis takdir yang mestinya dipersalahkan.
Atau ini salah kita?
Tuhan membuat kita main petak umpet dengan dasar perasaan.
Satu menanti satu berlari, selalu begitu dan berulangkali.
Sudah.
Kini lunas.
Untaian semesta kini jadi sejarah yang terukir di atas batu atap kota.
Malam purnama saat namaku dan namamu tinggal berdua tanpa selembar busana
kita saling menelanjangi rasa, tentang rindu dan cinta yang kita punya.
Tentang perasaan dan rasa takut kehilangan,
Begitu munafiknya kita akan rasa ini.
Pelukan terkahir yang kurasa masih melekat kuat lenganmu di bahuku,
atau helai rambut dan wangi tubuhmu yang masih ada.
Sudahlah.
Memang salah kita. yang terlalu munafikkan cinta.
Maka biar cinta yang pernah kita nodai dengan kemunafikan itu,
kita tebus dengan rasa paling tulus dalam doa-doa bahagia, selamanya.
