Ada satu musim dimana kembang mekar bersama gerimis yang membasahi tiap daun gugur di tepi rumput.
Setelah senja pulang dan malam berhias angin dingin yang membawa getir berayun di wajahmu, seirama gerimis.
Malam kadang lebih kejam dari kenangan. Membuat tubuhnya luas di tengah luka yg makin membuas.
Getir dan getar menyatu di jiwa insan yg mendayung sampan di samudra malam setelah purna jingga dari langit senja.
Nampaknya Surya masih belum puas tidur bersama Kokok ayam jago yang masih pulas dibuai malam yang bias. Bersama mimpi-mimpinya yang makin lugas seakan nyata realita tak ada beda.
Pelukan gelap nampaknya semakin dalam mendekap menusukkan tiap getir yang memberi getar pada luka yang menganga kala sepi mendera.
Apakah yg bisa dilakukan selain kepasrahan akan yang esa. Tentang laku yang sudah digaris memaku dan menyatu dalam tangis serta kepala yang makin menukik bersama histeris dalam kelam.
No comments:
Post a Comment