Belakangan saya kehabisan cara untuk mengisi waktu sepulang kerja terutama pada akhir pekan ketika tidak ada aktivitas. Sering kali pikiran tak terkendali jika kondisi tidak mengerjakan sesuatu yang positif. Kosong. Khawatirnya malah menjurus ke hal yang sangat negatif.
Saya coba mainan baru, sebuah hiburan lama yang sudah jarang saya mainkan. Menulis dan melukis. Susah sekali ketika kita ingin melakukan sesuatu yang sudah lama tidak kita lakukan.
Saya selalu suka buku-buku, lukisan, harmoni, dan kata-kata yg ada di puisi. Pada akhirnya dalam dua Minggu terakhir saya menghabiskan waktu untuk melukis dan sesekali menulis untuk melampiaskan pikiran dan mengisi waktu luang di akhir pekan atau setelah pulang kerja
Saya suka puisi dan lukisan abstraksi, karena seseorang akan sulit memahami apa yang ingin kita ungkapkan dalam arti yang sebenarnya. Sehingga orang tidak perlu tahu kesedihan atau kebahagiaan yang sedang kita sampaikan, biar mereka menilai dengan presepsi mereka sendiri.
Lanjut,
Saya mulai melukis. Mengawali goresan dengan meracik perpaduan warna yang menghasilkan kilau terang yang semburat dalam cerah. Cuman setelah saya lihat hasilnya sedikit terlalu cengeng.
Saya coba rubah racikan warnanya, kali ini saya tambahkan warna gelap yang tegas, kemudian saya aplikasikan dalam goresan kasar tak beraturan supaya menimbulkan sisi luapan emosional
Saya pilih dasar putih yang dipadukan dengan warna gelap yang pekat sebagai simbol ketidakpastian, lalu saya tambahkan kilau terang agar tidak memberi kesan mati pada lukisannya, namun saya coba gunakan percampuran warna yang menghasilkan warna cerah tapi tidak memberi kesan melow. Tujuannya agar tidak terlihat sendu atau menye-menye seperti boy band korea. Hahahaha. Hasilnya cukup emosional dan lebih natural (kurasa)
Saya mengerjakan lukisan kurang lebih sepuluh hari, mungkin bernilai jual cuman tidak akan saya jual. Hanya saja konsekuensi dari kegiatan ini saya mesti dapat omelan berkali-kali karena ada saja yang dikorbankan. Baik lantai di gudang belakang dan celana jeans butut andalan. Ya sudahlah yang penting happy. hihihi
Lanjut,
Saya lanjut melukis, kali ini saya mencoba membuat garis simetris. Saya rubah pola creating & skalanya dari kanvas menjadi kertas, kemudian dari kuas saya rubah jadi lebih tajam menggunakan pena drawing. Awalan cukup berantakan, karena tak ada kesempatan kedua ketika kita menggunakan bolpoint.
Maka pada kesempatan selanjutnya, saya coba gambar menggunakan pensil.
Oh iya, tempo hari seseorang pernah bercerita ada tempat makan enak yang wajib saya kunjungi "Penyetan Ayu Sakti" maka sebelum mampir ke cafe Basabasi untuk mencari inspirasi, saya sempatkan mengisi perut di penyetan Ayu Sakti.
Di cafe Basabasi saya menantang diri saya membayangkan rupa seseorang tanpa melihat fotonya, hanya berdasarkan ingatan yang dituangkan dalam lukisan atau sketsa gambar lebih tepatnya. Tapi setelah saya pikir, baiknya mungkin saya melukis tidak dengan wajah tapi cukup dari busana dan gestur orangnya saja.
Hanya saja setelah saya lihat hasilnya, ternyata kurang presisi tapi cukup menggambarkan anggunnya wanita yang saya gambarkan. Saya namakan (dia) lukisan ini, "Di Balik Punggung Mbak Nur" Hahaha
Begini hasilnya:
Bonus puisi untuk menikmatinya:
Sampai kudengar sayup-sayup kibas pucuk kerudungmu berdesir di pangkal ingatanku, aku masih laki-laki yang sama; yang memberanikan diri untuk menantang matamu, membaca nasibku.
Sebab, Cah Ayu... menjalani sebuah kegagalan masih bisa dimengerti daripada tidak menjalani apapun, sama sekali.
Oke, Demikian cerita ini berakhir. Good Night & Adios.







No comments:
Post a Comment