Pernah. Gelap membekap.
Murung mengurung.
Seperti hari-hari mati. Tapi sudahlah.
Kehampaan itu biasa.
Seperti rongga dada tempat masuk sebuah udara.
Bukankah kehidupan berawal dari kehampaan.
Manusia menghabiskan akhir masa untuk harta masa selanjutnya.
Entah cinta yang mereka tanam ada atau lupa.
Tapi biar saja. Yang penting mencoba (kata pengemis pinggir jalan).
Hari-hari murung karena mendung.
Selalu jadi kambing hitam. Mendung tak pernah naik pitam.
Setulus gelap setabah temaram.
Mencintai kesendirian yang hadir bersama kesunyiaan lebih melegakan.
Seperti berteriak di pantai kuat-kuat.
Entah beban masih lekat atau tidak, tapi setidaknya puas mengobati cemas.

No comments:
Post a Comment