Tuesday, June 8, 2021

BURUNG GEREJA JINGGA

  



Beberapa waktu kini sering melempar angin menuntun teduh ke masa yang sudah lama tak kusapa. Seperti artefak-artefak Budha yang tergambar begitu indah kecil melebar. Rinai redup batuan awan turun terasing pada nyanyian angin yang bising. Bersamamu. Ada celah di awan yang pernah kita coba lawan. Menyembah harap meracau keluh dan sisa-sisa kini yang ada, hanya bualan demi bualan tanpa nama.

Serpihan pagi dan kepingan sore di sisimu kini serupa hujan, menggeliat pelan tersapu ketiadaan. Sepertimu. Sesuka hati melukis musim di hati tanpa peduli yang terjadi. Tanpa mengerti apa yang ada kini. Jika telaga itu masih sama, dimana dulu kau menenggelamkan seseorang hingga mati tak bersuara, tenggelam dalam gula-gula sekam. Maka kursi itu tak akan pernah terhuni lagi.

Jika jingga ufuk barat berubah pergi dari timur. Atau jika harapan terhalang dengan kata umur. Maka izinkan burung gereja kecil terbang rendah kehadapanmu. Menikmati bau tubuhmu. Mendengar tiap decit dari gigi mungilmu beradu saat kau tersenyum. 

Atau jika tak ada lagi untuk burung gereja hinggap, maka biar jingga merah ini tersingkap jadi gelap. Walau memang aku tahu harus demikian. Dan sudah berapa saran menyikapi sekian. Lalu, leleh getar debar serupa wangi mawar dalam balutan ketidakmampuan. 

No comments:

Post a Comment

KUPU-KUPU MURUNG

  Hai dinda, Apa kabar di sana? Kurasa malammu baik-baik saja. Kuingat saat pertama matamu menjangkau mataku Ada luka dalam di sana, yang en...