Hujan turun di areal pegunungan pantai utara. Rindang belantaranya menutupi cahaya surya menjejak jalan setapak. Pada suatu masa aku menemukanmu gadis kecil, dia mengajakku duduk dan memandang pantai beserta ular besi berekor dari sudut pantai membelakangi hutan. Gadis kecil itu tak berhenti memegang jari telunjukku dengan sebuah genggaman kuat.
Sinar mata yang dia tampakan seperti melukai segala macam perasaan. Aku hendak bertanya, namun suara tercekat di tenggorokan saat melihat senyumnya sambil menatapku. Bintang-bintang terang mulai berpijar di kaki langit. Tapi dia masih lekat memegang jariku dengan segenap genggaman. Senyum manis dari bibirnya yang mungil mengembang indah seperti anugerah yang tuhan beri pada sebuah perjalanan.
Sekejap angin menjadi lebih dingin, memukul tubuh lebih keras dari yang biasanya dia lakukan. Gerimis turun bersama kabut tipis. Seiring dengan lenyapnya sebuah sentuhan dalam genggaman kecil yang sempat buatku bertanya akan sebuah perasaan. Mungkin seharusnya berhenti, karena bara yang sudah dingin ketika terkena angin mampu membakar segala yang dia ingin.
Aku butuh whisky, bir, atau sejenisnya untuk melupakan ujung hari ini. Sampai jumpa lagi.

No comments:
Post a Comment