Sunday, April 3, 2022
Sehelai Bulu Yang Terbang Menghilang
Friday, October 8, 2021
BLACK ROSE
Untuk sebuah pelukan yang selalu lekat dalam ingatan.
Pada sebuah senyuman dalam kuyup kehujanan,
jatuh bangun menggapai bunga cinta yang kau injak jadi luka
di dingin November atap kota.
Setengah windu membayar rindu,
kesalahpahaman atau garis takdir yang mestinya dipersalahkan.
Atau ini salah kita?
Tuhan membuat kita main petak umpet dengan dasar perasaan.
Satu menanti satu berlari, selalu begitu dan berulangkali.
Sudah.
Kini lunas.
Untaian semesta kini jadi sejarah yang terukir di atas batu atap kota.
Malam purnama saat namaku dan namamu tinggal berdua tanpa selembar busana
kita saling menelanjangi rasa, tentang rindu dan cinta yang kita punya.
Tentang perasaan dan rasa takut kehilangan,
Begitu munafiknya kita akan rasa ini.
Pelukan terkahir yang kurasa masih melekat kuat lenganmu di bahuku,
atau helai rambut dan wangi tubuhmu yang masih ada.
Sudahlah.
Memang salah kita. yang terlalu munafikkan cinta.
Maka biar cinta yang pernah kita nodai dengan kemunafikan itu,
kita tebus dengan rasa paling tulus dalam doa-doa bahagia, selamanya.
Tuesday, August 17, 2021
ALONE AGAIN (NATURALLY)
Indonesia, 18-8-2021 (Musim Pandemi)
Saturday, July 31, 2021
KUDA HITAM TENGAH MALAM
Saturday, July 10, 2021
SENJA KECIL DI BALIK KABUT
Hujan turun di areal pegunungan pantai utara. Rindang belantaranya menutupi cahaya surya menjejak jalan setapak. Pada suatu masa aku menemukanmu gadis kecil, dia mengajakku duduk dan memandang pantai beserta ular besi berekor dari sudut pantai membelakangi hutan. Gadis kecil itu tak berhenti memegang jari telunjukku dengan sebuah genggaman kuat.
Sinar mata yang dia tampakan seperti melukai segala macam perasaan. Aku hendak bertanya, namun suara tercekat di tenggorokan saat melihat senyumnya sambil menatapku. Bintang-bintang terang mulai berpijar di kaki langit. Tapi dia masih lekat memegang jariku dengan segenap genggaman. Senyum manis dari bibirnya yang mungil mengembang indah seperti anugerah yang tuhan beri pada sebuah perjalanan.
Sekejap angin menjadi lebih dingin, memukul tubuh lebih keras dari yang biasanya dia lakukan. Gerimis turun bersama kabut tipis. Seiring dengan lenyapnya sebuah sentuhan dalam genggaman kecil yang sempat buatku bertanya akan sebuah perasaan. Mungkin seharusnya berhenti, karena bara yang sudah dingin ketika terkena angin mampu membakar segala yang dia ingin.
Aku butuh whisky, bir, atau sejenisnya untuk melupakan ujung hari ini. Sampai jumpa lagi.
Monday, June 14, 2021
JARUM DALAM KEPALA
Seperti surat kaleng di laut yang entah kapan sampai pada tujuan. Terombang-ambing bersama deru angin mendesing memukul sepi. Berayun bergelayut seperti rambutmu yang hitam. Terasa kemarin sore aku duduk dikursi dan malam yang sama. Namun saat aku terjaga semuanya sudah terlalu asing kucerna dalam dada. Sakit dikepala.
Jarum-jarum itu tiap waktu mensuk ingatan dan rekatan yang pernah membekas. Denting piano sunyi selalu berhasil memanggilmu dan memukulku mundur tak teratur. Terbang tak tenang dalam bayang-bayang tenggelam. Puluhan lagu lama yang menyala mengakar luka, berbuah realita. Sepi. Kenyataan bahwa kau tiada.
Sudah berapa waktu ingin kutulis puisi-puisi tebal untuk sebuah rekah di senymmu. Kupu-kupu biru hinggap di halaman, kini dia sendirian. Terbang tanpa bunga diantara pelataran-pelataran yang sepi tak kunjung terobati.
Pada sepi paling sepi: Tinggi menjulang Ranukumbolo atau tegarnya Sindoro. Tak mampu menghidupkan kembali sesuatu yang bernama namun tak berirama. Kini sudah nyaris setengah perjalanan, aku berdoa untuk segala sahaja kebahagiaan di dekatmu.
Ada jeritan paling keras pada dinding paling sepi di hati. Seandai-andainya bertemu akan menghapus ketulusan dalam mencintaimu. Maka biar kesenduan dan perih-perih penyesalan mengajarkan keikhlasan. Sebenarnya banyak tanya yang mesti diselesaikan. Entah kenapa?
Namun bodohnya aku. Mengatasnamakan logika dan kecintaan yang tercinta tanpa mendengar nurani. Tidak..!!! Tak perlu ratapan, cukup keikhlasan. Walau ditiap jalan ada luka. Walau ditiap udara ada lara. Dan ditiap tempat ada rindu-rindu yang berat.
Aku kembali dalam dekapan hujan. Melihatmu berteduh kedinginan namun tak mampu meneduhkan atau menghangatkan. Hanya doa penghubung ketulusan dalam dekapan. Dan ucapan lirih, bahwa "Aku mencintaimu" tak akan lekang walau berpenghalang.
Seminyak, 22 Desember 2014
Tuesday, June 8, 2021
BAYANG-BAYANG
BURUNG GEREJA JINGGA
Saturday, August 22, 2020
BUNGA MATAHARI TENGGELAM (kedua)
mencoba rekah menahan pilu
di lintasan jalan dia mengadu
"tuhan apa salahku?"
Bunga matahari tak lagi cerah
senyumnya tak terarah
cerianya tak sumringah.
Bunga matahari tak lagi menari
karena waktu-waktu sendiri
menyayat hati.
Tenggelam tak mati
namun membiarkan langkah berhenti
tak lagi menanti
mengambil langkah sunyi
mempertaruhkan segala harmoni.
Dan kini aku rindu rekahnya.
Bunga matahari yang ingin aku lihat rekah sekali lagi
Tuesday, June 23, 2020
Pelukan Gelap
Semusim
KUPU-KUPU MURUNG
Hai dinda, Apa kabar di sana? Kurasa malammu baik-baik saja. Kuingat saat pertama matamu menjangkau mataku Ada luka dalam di sana, yang en...







