Sunday, April 3, 2022

Sehelai Bulu Yang Terbang Menghilang

 



Jauh sudah aku berjalan.
Meninggalkan kehangatan,
memeluk kedinginan.

Tahun berganti tahun,
dan mata itu enggan terkikis.
Dalam ingatan yang kadang mengiris.

Seperti sakit yang kerap menjerit,
luka sepi itu datang berungkali
tak terkendali,
begitu saja menusuk sampai jauh
dan melemparku pada rindu yang riuh.
Dimana tak mungkin kujangkau rindu itu 
hanya dengan untaian waktu.

Perantauan tanpa ingatan
berharap punya tujuan.
Jalan cerita yang ingin aku hamburkan
penuh senyuman juga kebahagiaan,
walau pasti satu sisi hati ada sepi,
dan sepi tak akan riuh kembali.

seuntai bulu burung dari sayapnya yang patah
terbang tiada arah.
berharap terbang namun justru menghilang
Kembali tak menghapus luka
justru mengingat duka menambah luka.


Friday, October 8, 2021

BLACK ROSE




Untuk sebuah pelukan yang selalu lekat dalam ingatan. 

Pada sebuah senyuman dalam kuyup kehujanan, 

jatuh bangun menggapai bunga cinta yang kau injak jadi luka 

di dingin November atap kota.

Setengah windu membayar rindu,

kesalahpahaman atau garis takdir yang mestinya dipersalahkan.

Atau ini salah kita?

Tuhan membuat kita main petak umpet dengan dasar perasaan.

Satu menanti satu berlari, selalu begitu dan berulangkali.

Sudah. 

Kini lunas.

Untaian semesta kini jadi sejarah yang terukir di atas batu atap kota.

Malam purnama saat namaku dan namamu tinggal berdua tanpa selembar busana

kita saling menelanjangi rasa, tentang rindu dan cinta yang kita punya.

Tentang perasaan dan rasa takut kehilangan, 

Begitu munafiknya kita akan rasa ini.

Pelukan terkahir yang kurasa masih melekat kuat lenganmu di bahuku,

atau helai rambut dan wangi tubuhmu yang masih ada.

Sudahlah. 

Memang salah kita. yang terlalu munafikkan cinta. 

Maka biar cinta yang pernah kita nodai dengan kemunafikan itu, 

kita tebus dengan rasa paling tulus dalam doa-doa bahagia, selamanya.

Tuesday, August 17, 2021

ALONE AGAIN (NATURALLY)

 


Barangkali lagu ini yang paling tepat menggambarkan kondisi saat ini. Sendiri lagi (pada akhirnya). Hari-hari pandemi barangkali akan jadi hari-hari yang memorable untuk masa yang akan datang. Tentang kesulitan menghadapi dunia dan kesendirian yang membuat kita juga sulit menghadapi diri sendiri.

Belum lagi dengan segala pertanyaan yang tiba-tiba muncul dibenak saat kesepian itu kita dekap erat. Mungkin sebagian dari kita ada yang sangat berbahagia karena selama pandemi bisa berkumpul hangat dengan keluarga. Namun ada yang menyeduh sepi dan perih di pojok dunia.

Sebenarnya dunia bukan alasan untuk jadi kambing hitam atas kondisi saat ini yang terjadi. Bukankah sesuatu ini terjadi karena kerakusan manusia itu sendiri yang ingin memakan segala. Sebenarnya rootcause dari semua ini yang saya temukan dari pandemi ini adalah kita terlalu tamak dan picik.

Satu hari (dalam kesepian) tak sengaja lagu Gilbert O'Sullivan mengalun dari youtube karena fitur autoplay. Lagu yang indah. Saat mendengarnya dunia ini terasa melambat bahkan berhenti. Ketenangan beserta kedamaian muncul tanpa diminta.

Sudah lama saya tak mendapat moment ini, sejak terakhir kali harmoni yang bisa menenangkan hati saya adalah harmoni yang dilantunkan pada pemakaman "Michael Jackson" dimana lagu ini adalah lagunya sendiri yang berjudul "One Day In Your Life". 

Saat mendengarkan lagu dari Gilbert ini, angin yang berhembus dari jendela terasa lebih dingin lebih sejuk dan lebih menenangkan. Sakit kepala dan pikiran-pikiran tak karuan yang berantakan mulai pudar walau tak hilang.

Memang kesepian itu bedebah yang perlu dimusnahkan, namun tak mungkin dilakukan. Karena biar bagaimanapun pada kodratnya kita akan kesepian. Akan sendirian. Dimana dan kapan. Kita tinggal tunggu waktunya. Entah karena usia, maut, atau hal yang lainnya.



Indonesia, 18-8-2021 (Musim Pandemi)

Saturday, July 31, 2021

KUDA HITAM TENGAH MALAM

 



Hitam tak hanya warna malam. Ada juga kehidupan bernama lain "hitam". Identik dengan kesenduan atau bahkan kejahatan dengan warna yang tengah kita bahas ini. Namun ada sisi lain dari hitam bernama "patriot" atau pengorbanan dimana tak semua orang melihat hal itu pada tubuh warna ini. Purnama termenung diam dalam anggun malam, menatap titik hitam bergerak melebar memanjang menutupi dunia bernama "temaram"

Seekor kuda hitam merenung dalam kebisuan paling bisu kota-kota yang punya banyak janji cinta untuk manusia. Angin memukul tubuh memutus angan sia-sia. Rengek ringkik tak ditunjukan si kuda yang bertubuh hitam, kekar, dan besar. Layaknya seorang prajurit, keluh dan tangis sedih mestinya sudah lama dilupa untuk sebuah tawa yang sedang dia tuju dalam doa.

Dua kaki dibelenggu tak menyurutkan raut gagah kuda hitam yang berdiri tegap di tengah malam menghadang kesepian dan kedinginan kerajaan rembulan. Angin dingin berkali menggoda rambut dan kulitnya akan rasa sakit yang mendera. Kuda adalah kendaraan para ksatria, sudah sewajarnya sikapnya pun mencerminkan sikap seorang ksatria. Tak tergoda luka dan lara untuk asa yang dia panjatkan dalam doa. 

Saturday, July 10, 2021

SENJA KECIL DI BALIK KABUT


Hujan turun di areal pegunungan pantai utara. Rindang belantaranya menutupi cahaya surya menjejak jalan setapak. Pada suatu masa aku menemukanmu gadis kecil, dia mengajakku duduk dan memandang pantai beserta ular besi berekor dari sudut pantai membelakangi hutan. Gadis kecil itu tak berhenti memegang jari telunjukku dengan sebuah genggaman kuat.

Sinar mata yang dia tampakan seperti melukai segala macam perasaan. Aku hendak bertanya, namun suara tercekat di tenggorokan saat melihat senyumnya sambil menatapku. Bintang-bintang terang mulai berpijar di kaki langit. Tapi dia masih lekat memegang jariku dengan segenap genggaman. Senyum manis dari bibirnya yang mungil mengembang indah seperti anugerah yang tuhan beri pada sebuah perjalanan.

Sekejap angin menjadi lebih dingin, memukul tubuh lebih keras dari yang biasanya dia lakukan. Gerimis turun bersama kabut tipis. Seiring dengan lenyapnya sebuah sentuhan dalam genggaman kecil yang sempat buatku bertanya akan sebuah perasaan. Mungkin seharusnya berhenti, karena bara yang sudah dingin ketika terkena angin mampu membakar segala yang dia ingin.

Aku butuh whisky, bir, atau sejenisnya untuk melupakan ujung hari ini. Sampai jumpa lagi.



Monday, June 14, 2021

JARUM DALAM KEPALA




Seperti surat kaleng di laut yang entah kapan sampai pada tujuan. Terombang-ambing bersama deru angin mendesing memukul sepi. Berayun bergelayut seperti rambutmu yang hitam. Terasa kemarin sore aku duduk dikursi dan malam yang sama. Namun saat aku terjaga semuanya sudah terlalu asing kucerna dalam dada. Sakit dikepala. 

Jarum-jarum itu tiap waktu mensuk ingatan dan rekatan yang pernah membekas. Denting piano sunyi selalu berhasil memanggilmu dan memukulku mundur tak teratur. Terbang tak tenang dalam bayang-bayang tenggelam. Puluhan lagu lama yang menyala mengakar luka, berbuah realita. Sepi. Kenyataan bahwa kau tiada. 

Sudah berapa waktu ingin kutulis puisi-puisi tebal untuk sebuah rekah di senymmu. Kupu-kupu biru hinggap di halaman, kini dia sendirian. Terbang tanpa bunga diantara pelataran-pelataran yang sepi tak kunjung terobati. 

Pada sepi paling sepi: Tinggi menjulang Ranukumbolo atau tegarnya Sindoro. Tak mampu menghidupkan kembali sesuatu yang bernama namun tak berirama. Kini sudah nyaris setengah perjalanan, aku berdoa untuk segala sahaja kebahagiaan di dekatmu. 

Ada jeritan paling keras pada dinding paling sepi di hati. Seandai-andainya bertemu akan menghapus ketulusan dalam mencintaimu. Maka biar kesenduan dan perih-perih penyesalan mengajarkan keikhlasan. Sebenarnya banyak tanya yang mesti diselesaikan. Entah kenapa?

Namun bodohnya aku. Mengatasnamakan logika dan kecintaan yang tercinta tanpa mendengar nurani. Tidak..!!! Tak perlu ratapan, cukup keikhlasan. Walau ditiap jalan ada luka. Walau ditiap udara ada lara. Dan ditiap tempat ada rindu-rindu yang berat.

Aku kembali dalam dekapan hujan. Melihatmu berteduh kedinginan namun tak mampu meneduhkan atau menghangatkan. Hanya doa penghubung ketulusan dalam dekapan. Dan ucapan lirih, bahwa "Aku mencintaimu" tak akan lekang walau berpenghalang.



Seminyak, 22 Desember 2014

Tuesday, June 8, 2021

BAYANG-BAYANG



Pernah. Gelap membekap.
Murung mengurung.
Seperti hari-hari mati. Tapi sudahlah.
Kehampaan itu biasa. 
Seperti rongga dada tempat masuk sebuah udara. 
Bukankah kehidupan berawal dari kehampaan.

Manusia menghabiskan akhir masa untuk harta masa selanjutnya. 
Entah cinta yang mereka tanam ada atau lupa.
Tapi biar saja. Yang penting mencoba (kata pengemis pinggir jalan).

Hari-hari murung karena mendung. 
Selalu jadi kambing hitam. Mendung tak pernah naik pitam. 
Setulus gelap setabah temaram. 
Mencintai kesendirian yang hadir bersama kesunyiaan lebih melegakan. 
Seperti berteriak di pantai kuat-kuat. 

Entah beban masih lekat atau tidak, tapi setidaknya puas mengobati cemas.   

 

BURUNG GEREJA JINGGA

  



Beberapa waktu kini sering melempar angin menuntun teduh ke masa yang sudah lama tak kusapa. Seperti artefak-artefak Budha yang tergambar begitu indah kecil melebar. Rinai redup batuan awan turun terasing pada nyanyian angin yang bising. Bersamamu. Ada celah di awan yang pernah kita coba lawan. Menyembah harap meracau keluh dan sisa-sisa kini yang ada, hanya bualan demi bualan tanpa nama.

Serpihan pagi dan kepingan sore di sisimu kini serupa hujan, menggeliat pelan tersapu ketiadaan. Sepertimu. Sesuka hati melukis musim di hati tanpa peduli yang terjadi. Tanpa mengerti apa yang ada kini. Jika telaga itu masih sama, dimana dulu kau menenggelamkan seseorang hingga mati tak bersuara, tenggelam dalam gula-gula sekam. Maka kursi itu tak akan pernah terhuni lagi.

Jika jingga ufuk barat berubah pergi dari timur. Atau jika harapan terhalang dengan kata umur. Maka izinkan burung gereja kecil terbang rendah kehadapanmu. Menikmati bau tubuhmu. Mendengar tiap decit dari gigi mungilmu beradu saat kau tersenyum. 

Atau jika tak ada lagi untuk burung gereja hinggap, maka biar jingga merah ini tersingkap jadi gelap. Walau memang aku tahu harus demikian. Dan sudah berapa saran menyikapi sekian. Lalu, leleh getar debar serupa wangi mawar dalam balutan ketidakmampuan. 

Saturday, August 22, 2020

BUNGA MATAHARI TENGGELAM (kedua)


Ada senyum berwarna biru

mencoba rekah menahan pilu

di lintasan jalan dia mengadu

"tuhan apa salahku?"


Bunga matahari tak lagi cerah

senyumnya tak terarah

cerianya tak sumringah.


Bunga matahari tak lagi menari

karena waktu-waktu sendiri

menyayat hati.


Tenggelam tak mati

namun membiarkan langkah berhenti

tak lagi menanti

mengambil langkah sunyi

mempertaruhkan segala harmoni.


Dan kini aku rindu rekahnya.

Bunga matahari yang ingin aku lihat rekah sekali lagi  

Tuesday, June 23, 2020

Pelukan Gelap

Terik gelap menimbun panas,
palung sepi terpekik cemas,
hening pecah terbanting keras.
Rasa ingin yang menjelma dingin.
Harapan dan kehampaan;
Kini setebal nama dalam ingatan,
lirih beralih tergilas adzan,
waktu senja sebelum rembulan.
Datang perlahan merengkuh haribaan

Jangan sedih 
karena di depan lebih pedih
Jangan letih
Karena kau bukan makhluk ringkih
Jangan rapuh
Masih banyak suka duka bergemuruh

Semusim

Dari balik rambutmu,
salju turun menabur pilu.
Kicau burung menunggu,
bersama kopi dan buku-buku.
Serta hangat senja disisimu

Bulan ini belum November,
kerlip terang putih di atas putih.
Menggodaku dalam lamunan,
memaksaku memutar ingatan

Mentari terhapus salju,
sisakan bunga-bunga yang tumbuh membeku.
Rindu-rindu itu sedang mencari rumah berteduh,
dari gigil tubuh yang mengaduh,
sedang musim semi masih jauh.
Atau selamanya hanya salju yang jatuh

KUPU-KUPU MURUNG

  Hai dinda, Apa kabar di sana? Kurasa malammu baik-baik saja. Kuingat saat pertama matamu menjangkau mataku Ada luka dalam di sana, yang en...